"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Absen siapa yang kangen bontot Julian dan Marsha solehot dong!
Kalau lupa alurnya, boleh baca part sebelumnya dulu yaa
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagi Julian, segala hal tentang Marsha menjadi sangat menarik perhatiannya dari awal pertemuan mereka pada kali pertama. Julian bukan tipikal orang yang senang mencampuri urusan orang lain. Dia terkesan cuek dan hidup dengan apa yang dia punya. Namun pada hari dimana dia menemukan fakta baru mengenai orang yang dia sayang, perangai Julian berubah total.
Jika harus memilih, Julian akan mencari tahu hal ini hingga ke akar-akar daripada tidak terlibat sekalipun dan membuat tidurnya menjadi tak tenang.
Itulah alasan mengapa dia berada di sini sekarang. Berdiri tepat di hadapan sebuah kaca besar yang mengelilingi bagian depan tempat bertuliskan 'Prime Steak Restauran.' Dari sejauh mata memandang, semua orang tampak sibuk karena jika sore menjelang maghrib begini, restoran itu akan sangat ramai.
Dia akan mencari sosok ibu bernama Miranda. Namun ketika Julian baru melangkahkan kaki ke dalam hendak mencari tempat duduk, dia sudah dibuat terkejut lantaran suara keras seorang ibu yang terdengar mengamuk.
"Kalau nggak bisa kerja ya nggak usah kerja! Kamu tau nggak? Harga sepatu ini nggak akan pernah setara sama gaji kamu berbulan-bulan. Apa tanggungjawab kamu sekarang?"
Di hadapan wanita yang tengah memaki itu, terdapat seorang ibu yang terus merunduk. Julian hanya bisa melihat punggungnya yang bergetar, namun tahu jika saat ini dia tengah mengalami ketakutan besar.
Banyaknya orang di sana hanya memperhatikan. Menonton seolah itu adalah acara yang seru. Beberapa saat setelahnya, bos pun datang. Menengahi perdebatan yang terjadi dengan memberikan pengertian pada pelanggannya itu.
"Kami memohon maaf jika pegawai baru kami membuat anda tidak nyaman-"
Wanita itu justru mendelik pada pemilik restoran dan menatap rendah ke arah wanita yang baru saja dimakinya. "Baru? Pantes saya baru liat kamu. Tapi setidaknya kamu tahu sopan santun. Saya nggak pernah mendapat ketidaknyamanan ini sebelumnya." Wanita itu berdiri dengan mata berpendar mengelilingi penjuru restoran sambil bersedekap dada.
Membuat bos yang ada di sana terus dirundung rasa bersalah.
"Ma-maaf, Bu. Bukan sengaja saya menumpahkan air itu. Saya tersandung."
Perdebatan tak kunjung mereda. Samar-samar Julian tahu bahwa kejadian itu dilatarbelakangi pegawai yang tidak sengaja menumpahkan air kepada pelanggan wanita hingga mengenai baju dan sepatunya menjadi basah.
Tapi bagian menyedihkannya, wanita dengan heels tinggi mengkilap tak kunjung memaafkan. Dia seolah tak iba melihat wajah melas dan nelangsa seorang ibu di hadapannya. Dia malah memperburuk keadaan dengan berkata,