72#Strategi dan Renggang

765 39 2
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Selang beberapa hari setelah obrolan Julian dengan keluarganya, ia dan Marsha pindah rumah di kawasan perumahan yang juga tidak jauh dari kontrakannya dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selang beberapa hari setelah obrolan Julian dengan keluarganya, ia dan Marsha pindah rumah di kawasan perumahan yang juga tidak jauh dari kontrakannya dulu. Kepindahannya itu lumayan cukup merepotkan karena selain harus mengurus Jenderal, Marsha juga masih berada dalam fase baby blues.

Seperti pagi ini, begitu membuka mata dan bangun untuk mandi, istrinya masih setia tidur di kamar. Julian ingin sekali marah, karena sudah beberapa hari ia harus memaklumi Marsha yang tidak stabil sekarang. Bahkan ketika ia membuka lemari, baju sama sekali tidak tersusun rapi.

Akan tetapi, Julian memilih menghela napas. Menahan dan lagi-lagi mencoba memahami mungkin fase ini memang terjadi begitu lama. Ia salin pakaian dengan setelan kantor yang rapi. Menuju dapur dan hanya menggoreng telur karena setelah pindah kerja, Julian mempunyai jadwal dan dia tidak ingin terlambat.

Langkah besarnya tampak terburu-buru. Bahkan dasi yang seharusnya dipakaikan sang istri harus dipakainya secara tergesa sendiri. Ia menuju kamar lagi untuk berpamitan pada anak dan istrinya. Langkahnya berhenti di ujung pintu saat matanya mendapati Marsha berdiri di depan Jendela. Spontan Julian tersenyum sumringah.

"Akhirnya kamu bangun pagi."

Marsha hanya menoleh sesaat sebelum kembali melihat pemandangan luar.

Julian melangkah semakin dekat. "Hari ini aku nggak bikinin sarapan buat kamu. Maaf ya? Aku nggak sempat tapi kamu jangan lupa sarapan nanti."

"Hm."

Lelaki itu merunduk demi mencium kening putranya yang masih tertidur. Kemudian berdiri di belakang punggung kecil Marsha. Mengusapnya halus sebelum membalikkannya menghadap Julian. Tinggi gadis itu yang hanya sebatas dada bidangnya membuat Julian harus menunduk untuk menatap mata jernih istrinya.

Dari sinilah Marsha bisa mengendus tubuh kekar Julian yang begitu wangi. Dia jauh lebih tampan memakai setelan kemeja dan jas yang dibalut dasi. Tampak dewasa dengan rambut klimis dan penampilan yang rapi. Lelaki itu mendekat. Semakin dekat sampai hidung mancung mereka bersentuhan.

"Aku sayang sama kamu, Sha," bisik Julian halus.

Lelaki itu mengukung tubuh Marsha dengan kedua tangan yang bertumpu di jendela tepat di belakang telinga istrinya. Bibirnya perlahan mendekat pada bibir Marsha tetapi belum sempat menempel, gadis itu sudah memalingkan wajahnya ke ke kanan berusaha menghindar. Begitu Julian mendekati bibir istrinya lagi, gadis itu menoleh ke arah kiri.

Kesal, Julian memegang dagu istrinya dan ia angkat perlahan. Tetapi yang dilakukan gadis itu lagi lagi menutup bibirnya rapat-rapat.

Bugh

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang