"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Marsha dalam perjalanan pulang menuju rumahnya setelah menyetujui ajakan Ansel untuk menemui Allucard dan anak-anak The Zurrel. Ia sebenarnya tidak penasaran-penasaran amat, akan tetapi keterlibatan merea dan dendam yang begitu nyata pada Julian mengharuskan Marsha untuk mengorek lebih mengenai apa akar dari masalah mereka.
Ia menemukan inti dari permasalahan itu adalah karena dua orang anggota The Zurrel mati di tangan Xavior gang pada saat Julian baru menjabat sebagai ketua. Sebetulnya ia antara percaya dan tidak percaya. Tetapi mereka selalu bilang bahwa nyawa harus dibalas nyawa.
Hari yang melelahkan. Mungkin selanjutnya Marsha akan langsung tidur di kamar atau sekedar memasak sebungkus mie. Itupun kalau tidak diganggu iblis bernama Galen. Ngomong-ngomong ayah tirinya itu tidak terlihat lagi semenjak Julian menghabisinya saat di hotel. Kemana dia kira-kira?
Tak mau ambil pusing, Marsha kembali melanjutkan langkah pada jalanan sepi menuju rumahnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Marsha memberanikan diri setelah tahu bahwa Allucard memiliki urusan sehingga lelaki itu tidak bisa mengantarnya. Semula semua baik-baik saja, sampai bunyi ketukan sepatu bertemu aspal terdengar begitu jelas di telinganya.
"Siapa di sana?" Marsha menoleh ke arah belakang dan menemukan tidak ada satu orang pun.
Bulu kuduknya mulai meremang. Ia ingin berpikir bahwa ada makhluk halus yang mengikutinya tetapi bunyi ketukan itu semakin keras terdengar. Untuk itu Marsha berlari. Dengan sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri penuh antisipasi.
Napas Marsha menjadi tidak beraturan. Ia berhasil kabur dari jarak satu meter dari suara tadi meski jalan yang dipilih membuatnya semakin jauh dari kawasan rumah. Marsha tidak memikirkan itu, yang penting ia aman dan bisa meminta pertolongan.
"Gue rasa ada yang ngikutin," desis Marsha menetralkan jantungnya yang berdegup tak tenang.
Marsha mengusap-usap dada dengan sesekali menarik napas persis yang diajarkan dokter psikolog nya kala ia merasa resah. Beberapa detik kemudian Marsha kembali berjalan. Seingatnya ini adalah jalan yang lumayan ramai yang biasanya diisi oleh bapak-bapak ronda malam.
Gadis itu menjejak tenang dengan sesekali merapalkan doa. Namun meski begitu, hari sial tetap tidak bisa dihindarinya. Tepat ketika Marsha berbelok ke arah tikungan, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok tinggi besar yang memakai pakaian serta topeng bewarna hitam. Pria itu menarik tangan Marsha dan membekap mulutnya kasar.
"ARGHH!!!! TOLOONG!!"
****
Apa yang terjadi ketika seseorang yang kita anggap sebagai malaikat justru berubah menjadi seorang pengkhianat?