"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Akhirnya kita sampai di penghujung cerita. Terimakasih karena kamu sudah sabar menunggu part ini. Sekali saja, apalagi yang belum pernah, ayo beri vote dan komen. Karena setelah ini, kalian ngga akan dapat notip dari cerita ini lagi kecuali pemberitahuan atau lain-lain. Enjoyers!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namun yang membuat mereka lebih kaget lagi, vidio itu justru menunjukkan seorang lelaki yang menabrak mobil hingga menubruk pohon di depan sebuah jurang.
Tidak cukup sampai disitu, jantung mereka seakan berheti ketika rekaman di zoom dan menunjukkan wajah dari pelaku tersebut adalah...
Edward.
Ketua Xavior gang yang ketiga.
Bagai tersambar petir di siang bolong, mereka terguncang oleh fakta yang ada. Bola mata mereka melebar sempurna. Terutama Julian, tentu saja. Tidak, tidak mungkin. Lelaki itu menggeleng kukuh, merasa tidak percaya.
"Apa kita masih denial, Gentala? Julian?"
Tetapi itu nyata. Tirai hitam itu betulan menunjukkan bahwa Edward lah yang menabrak dua anggota The Zurrel bahkan dengan tega membakar mobil mereka hingga masuk ke jurang. Lalu pertanyaan dari Adelard seakan menjadi pelengkap.
"Ju-Jul, gue mimpi kan?" Gama bahkan mengeluarkan suaranya yang gemetar.
Semua anggota inti Xavior gang ditambah sekitar lima juniornya terbeku ditempat. Tertelan rasa ketidakpercayaan. Atmosfer sekitar mendadak tak nyaman. Markas besar yang semula hangat mendadak menyeramkan.
"Lo berdua nggak bisa jawab?" Adelard bertanya disusul tawa yang menggelegar. "Bawa orangnya kesini," ucapnya setelah menyuruh salah satu anggotanya.
Menurut, dua orang The Zurrel datang dari arah belakang. Rupanya mereka tidak membawa tangan kosong, mereka justru membawa seorang lelaki bertubuh tinggi yang amat mereka kenali. Bersimpuh darah dengan wajah lebam dan satu kaki yang pincang.
"Bang Edward!"
Edward hadir setelah dikeroyok masal oleh The Zurrel. Kondisinya yang sudah babak belur itu dipaksa berjalan mendekat ke arah tirai. Bagai menyaksikan pertunjukkan bioskop dengan pemeran vilain yang berhasil ditangkap, Edward di arahkan ke tengah-tengah. Dipermalukan di hadapan semua anggota Xavior gang. Matanya yang biru bahkan diyakini sudah tak bisa lagi melihat menatap nanar Julian.
"Ma-maafin gue, Julian..."
Julian lemas. Dia merasa kakinya bahkan tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri kalau saja Abrisam tidak menahannya. Matanya berkaca. Hati yang sebelumnya membuncah itu digantikan dengan cabikan yang tak sudah-sudah.