64#Ayo pulang, Bontot kesayangan

1.3K 61 3
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Bunyi tarikan napas Juna di rumah megah itu menjadi satu-satunya suara yang memecah sunyi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bunyi tarikan napas Juna di rumah megah itu menjadi satu-satunya suara yang memecah sunyi. Menambah kenyataan bahwa si bungsu telah pergi dan Juna benar-benar sendiri. Bang Juan? Tentu saja lelaki tinggi yang selalu memakai stelan kantor serta rambut klimis nya itu akan banyak menghabiskan waktunya untuk bisnis.

Hanya Julian yang senang berada di rumah dan menghidupkan suasana.

Hanya Julian yang petakilan.

Dan hanya Julian yang bisa diajak gila.

Juna duduk di sofa dengan tangan menopang dagu. Wajahnya lesu seperti tidak makan seminggu. Ia ingin menemui adiknya tetapi bimbang karena Marsha bilang Julian tengah sibuk mencari kerja.

"Juna." Mom Jess memanggil dan mendekat duduk di sofa seberang anak bujangnya.

Lamunan Juna buyar seketika. "Eh-iya, Mom?"

"Kenapa nggak keluar? Kamu nggak nongkrong sama temen-temen?"

Juna menggeleng. "Males, Mom."

Mom Jess mendelik. "Gimana kamu mau punya pacar kalau muka ganteng kamu aja jarang di publish di luar?"

Seperti biasa, Juna yang sering mendapat ledekan soal 'pacar' hanya bisa mesem-mesem saja. Lelaki itu meneggakan duduknya. Menatap Mom Jess lama. "Mom."

"Kenapa? Kamu sepi ya nggak ada Juli?"

"Nah!" seru Juna tepat sasaran. "Mereka kenapa harus pindah sih, Mom? Si Marsha juga kenapa nurut-nurut aja? Emang Julian nggak kasian sama istrinya kalau nanti butuh sesuatu?"

Mom Jess merunduk. Mengembuskan napas lelah. "Mommy juga nggak tau, Juna. Entah karena dia merasa nggak enak atau ada omongan kita yang menyinggung."

"Apa karena bang Juan?"

"Bisa jadi." Mom Jes menatap Juna dan mengangguk-anggukan kepala. "Mommy juga mungkin ada salah. Tapi sikap Papi kamu sama Bang Juan emang keliatan banget kalau mereka kurang suka dengan pernikahan mereka."

Juna berdecak kecil. "Mom, kalau harus dibilang nggak suka, rasanya kita egois. Kita emang nggak tau apa yang udah terjadi sama Julian, Marsha. Tapi paling tidak kita bisa kasih tempat ternyaman buat mereka karena mereka juga bagian dari keluarga kita. Dan kejadian itu tuh udah terjadi juga. Marsha hamil dan Julian harus tanggung jawab, udah itu aja."

"Iya, Juna. Mommy ngerti. Tapi kalau dari sudut pandang Papi sama Bang Juan, pasti mereka bakal tetep bilang kecewa. Mereka kecewa karena Julian adalah harapan keluarga kita. Dan selama ini Julian cuma bandel sama temen-temennya, nggak pernah kita bayangkan dia sampai salah jalan begini."

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang