30#Tentang Mimpi Julian

1.9K 121 13
                                        

Kalau lupa alur, baca ulang part sebelumnya dulu yaa

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

"Pangeran Julian, Tuan putri sudah menunggu anda di depan istana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pangeran Julian, Tuan putri sudah menunggu anda di depan istana."

Beberapa detik setelah panggilan itu terdengar, sebuah kursi berbalik arah menampilkan seorang lelaki dengan balutan pakaian khas kerajaan. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Tanpa lama-lama, lelaki yang dipanggil 'Pangeran' beranjak dari kursi dan berjalan keluar ruangan bersama para pengawal.

Sesampainya di balkon istana, Julian menghentikan langkah begitu netranya menemukan lekuk tubuh indah yang berdiri membelakanginya. Rambutnya tergerai panjang dihiaskan pita berwarna merah. Gaun nya bewarna merah muda persis seperti putri Aurora.

"Princess."

Gadis yang kerap disebut Tuan putri itu berbalik. Bulu matanya mengerjap begitu lentik. Bibirnya merah merona. Wajahnya teduh dan nampak cantik. Julian terpana bukan main. Lelaki itu mendekat dan memandangnya lekat-lekat.

"Wajah teduh yang cocok untuk ku jadikan ratu."

"Apa maksudnya? Aku kesini mau mengambil mahkotaku yang tertinggal," ujar Marsha datar.

Julian terkesiap. Hampir saja ia melupakan kejadian kemarin dimana ia dan Marsha dipertemukan di suatu hutan ketika Julian hendak berburu dan menemukan Marsha yang merupakan putri kerajaan lain tengah dikejar-kejar seseorang. Segera ia meminta mahkota dari seorang pengawal untuk ia berikan kepada Marsha Ilona.

Hal itu tentu akan berjalan dengan lancar jika saja Julian tidak tengil dan menyebalkan. Ia menyodorkan mahkota itu kepada Tuan putri yang kemudian ia tarik kembali dengan sengaja.

"Hei! Aku bisa memanggil pengawalku di bawah!"

Julian menampilkan senyum menggoda. "Kenapa? Bukankah Tuan putri sepertimu lebih senang menghabiskan waktu sendiri dan punya cita-cita untuk menjadi rakyat biasa?"

Marsha mendengus. "Kenapa istana sebagus ini harus ditinggali pangeran gila sepertimu?"

"Tapi kau hutang Budi kepadaku, Tuan putri. Jika saja aku tidak menarikmu untuk kabur di hutan, kau pasti akan mati di tangan para penjahat itu."

"Terus kau mau meminta imbalan?"

"Tentu saja," jawab Julian tanpa pikir panjang. Lelaki itu menarik pinggang Marsha hingga mengikis jarak diantara mereka.

Pengeran itu merunduk demi bisa memandang bola mata jernih sang Tuan putri. Beberapa menit berlalu, ia berbisik halus. "Bolehkah aku yang memasang mahkotamu?"

Seolah terhipnotis tatapan teduhnya, Marsha mengangguk tanpa sadar. Ia merasakan tangan kekar pangeran melewati ujung matanya seiring mahkota itu menancap tepat di atas kepalanya.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang