58#Selamat Tinggal, Kawan Seperjuangan

1.6K 71 13
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Happy reading<3

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Seperti ucapan lo tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Seperti ucapan lo tadi ...Sakit dibalas maaf itu curang, nyawa harus tetep dibalas nyawa."

DORR!!

Bunyi tembakan keras terdengar melengking di udara. Burung-burung terbang kelabakan hingga ikut berisik menyuarakan kejadian di sana. Semuanya terdiam membisu. Tidak percaya bahwa satu kali tarikan pistol menancap tepat sasaran. Tidak melesat sama sekali.

Darian merasakan gemetar di sekujur badan. Dia berhenti berlari. Bukan, bukan untuk mengecek apakah dirinya menerima tembakan karena ia tidak merasakan sakit. Melainkan untuk memastikan bahwa seseorang yang berada dibelakangnya tidak terkena juga.

Akan tetapi ketika ia menoleh ke belakang sambil menelan ludah, ternyata dugaannya salah. Rainer telah berdiri kaku sambil bersimbah darah di bagian dada. Seketika Darian berteriak. Lebih kencang daripada burung-burung yang mengabari kabar duka di sana.

"BANG RAINER!!"

Sementara Reiner tak kuasa menahan perih yang seolah menusuk hingga ulu hati. Mungkin tangannya yang kering nan berurat yang kini memegangi dadanya pun akan lemah sebentar lagi.

"Bang... Astaga..." Darian menangis. Suaranya bergetar menusuk hati para anggota The Zurrel yang masih terdiam.

Lalu tak lama setelah itu, Rainer tumbang. Lututnya lemas hingga hanya air matanya saja yang terlihat keluar. Menahan rasa sakit itu, ia hanya butuh waktu satu menit sampai akhirnya kehilangan kesadaran.

****

"Sha." Julian memanggil untuk kali pertama setelah menerima panggilan.

"Kenapa, Lian?"

"Rainer, Sha ...."

Perasaan Marsha semakin tak enak. Ia yang kini berdiri di hadapan Julian melangkah semakin dekat. Memegang bahu kekar Julian lalu menatap semakin dalam. "Kenapa, Rainer? Dia... Baik-baik aja kan?"

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang