"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua orang lelaki dengan jaket hitam bergambar tengkorak di belakang punggung serta kacamata hitam yang bertengger mengambil langkah memasuki markas. Mereka menaiki tangga dimana anggota inti mengadakan evaluasi di ruangan tersembunyi mereka.
Salah satu dari dua orang lelaki itu berjalan menghampiri sang ketua. Berdehem sebentar untuk menarik perhatian lalu seisi ruangan terdiam.
"Bos Jul, mereka bilang cctv ditempat klub itu rusak sejak seminggu yang lalu."
Brakk!!
"Eh, ayam, ayam!" Arsenal tersentak hingga tak sengaja latah.
Tidak. Gebrakan itu bukan berasal dari tangan kekar Julian, melainkan tangan besar Gentala yang sejak tadi menahan emosi. Napas lelaki itu memburu. Penuh rasa tidak terima dengan pernyataan tersebut.
"Orang gila mana yang dengan sengaja ngebiarin cctv rusak ditempat usaha mereka kalau bukan karena mereka bersekongkol?" tanya Gentala menggertakan giginya.
Sementara yang lain tak berkata apapun selain melirik kompak ke arah Julian. Ketua mereka itu masih geming dengan pandangan kosong. Berusaha berpikir sejenak.
Gama yang terbisa melihat dari segala sisi memilih menjawab dengan tenang daripada harus emosi. "Enggak masuk akal kalau kita langsung percaya sama jawaban kosong mereka. Pasti ada sesuatu."
"Kalian nanya sama siapa? Pegawai? Perempuan? Manager atau customer?" Untuk pertama kalinya Julian bertanya sambil menatap kedua juniornya.
"Pegawai laki-laki."
"Terus ..." Salah satu dari kedua junior mereka itu menggantungkan ucapannya untuk mengingat-ingat. "Pegawai itu keliatan kaku. Dari nada bicaranya, dia seakan-akan pengen cepat mengakhiri obrolan sama kita."
tarikan napas terdengar dari mulut Julian. Lelaki itu bisa mengambil kesimpulan hanya dengan memperhatikan bagaimana mimik wajah lawannya ketika berbicara. Ia perlahan menyender pada kepala sofa. "Bagus kalau kalian merhatiin sampai sedetail itu. Sekarang kita tinggal selikin apa yang disembunyiin sama pegawai di sana."
"Berarti kita harus kirim orang lagi ke tempat itu?" Abrisam bertanya memastikan.
Julian mengangguk.
"Siapa?"
Beberapa detik Julian terdiam memperhatikan satu persatu anggota inti. Semua menatap balik Julian dengan tegas seolah siap dengan apapun perintah yang akan dikeluarkannya. Tak terkecuali Arsenal, si petantang-petenteng yang biasanya akan berpura-pura ingin menjeput pacar-pacarnya kini justru menampilan sikap siap sedia.
"Bilang aja, Jul, siapa yang bakal lo kirim. Kita semua siap," ucapnya lantang.