"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Note : Banyak flashback nya!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo mau kemana, Ner? Buru-buru amat."
Rainer yang begitu bersemangat mengemasi barang-barangnya ke dalam koper, menoleh menatap antusias Julian. "Gue mau ketemu Bella lah, Bos Jul."
"Jangan, bego. Nanti Arsenal nggak ada temennya." Gama menghampiri mereka dengan raut wajah marah.
"Tau lo. Nanti bisa nangis kejer dia." Gentala yang galak ikut menimpali.
"Ah gampang aja itumah. Kan ada kalian," jawab Rainer menyengir kuda.
"Ibu lo gimana?" Abrisam yang berhati baik nan lembut bertanya.
Rainer perlahan merunduk. Menelan salivanya susah payah seiring tarikan dibibirnya menyusut. "Ibu gue orang yang paling ikhlas. Ayah gue meninggal pun ibu gue nggak menikah lagi. Beliau akan ikhlas."
"Terus Ansel?" Sebagai sesama perempuan, tentunya Milan merasakan apa yang akan dirasakan Ansel jika dirinya ditinggalkan.
Rainer berpikir sesaat. Ansel, si gadis berambut bondol yang berani itu ya... Kemudian dia menjawab,
"Ansel? Emm... Titip ya, Sam."
****
Percakapan tadi adalah sebagian dari mimpi Julian. Di tanah yang subur, di tempat pemakaman yang teduh inilah Rainer akhirnya dikuburkan. Para keluarga, teman dan kerabat yang datang dengan pakaian serba hitam selesai membacakan doa dan pergi secara teratur.
Tinggalah teman-temannya yang setia menemani itu akhirnya tetap terpaku. Jika boleh memilih, mereka akan menemani Rainer terus hingga dia tidak merasa sepi. Mereka diam, mengulas balik kenangan sebelum kawan baiknya itu pergi.
"Baru banget semalem kita ngopi sambil bahas masa depan bareng. Lo bilang lo mau move on kan dari Issabela?" Abrisam tak kuat menahan isakannya. Dia bertanya seolah Rainer berdiri dengan cengiran khas nya, bukan di kubur di dalam tanah.
Flashback On
Suara mereka kian terdengar ramai tatkala menyanyikan lirik yang bersahut-sahutan. Beberapa anggota lain justru sibuk membawa makanan dan mulai ngobrol. Yang paling berisik adalah Rainer. Setelah sok bernyanyi inggris padahal liriknya tidak hapal-hapal amat, lelaki itu mulai memetik senar gitarnya untuk menyanyikan lagu 'Sempurna'
Dengan wajah sumringah kayak besok mau nikah.
"Sorry gue demennya sama gadis, emang Arsenal apa aja diembat." Lagi asik nyanyi pun Rainer rela berhenti untuk menyahuti guyonan Gama.