"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah. Sampai sini aja."
Laju motor Julian mendadak terhenti di sebuah gang di tepi jalan. Ia baru saja akan memasukkan motor besarnya pada jalan sempit itu tepat ketika Marsha memaksa turun.
"Kenapa nggak sampai depan rumah lo?"
Julian bertanya ketika gadis itu sudah berdiri di sisinya. Ia tidak mengerti mengapa setiap diantar olehnya, Marsha selalu meminta berhenti di tempat ini. Padahal Julian tidak pernah keberatan jika harus menerobos bahkan memilih jalan yang lebih jauh lagi asal gadis kesayangannya benar-benar sampai ke rumah.
Belakangan, Alathar sempat melaporkan bahwa dia pernah melawan dua anak punk lantaran menganggu Marsha.
Sudah jelas jika kawasan ini bukan sebuah jalan yang aman.
"Lebih baik di sini aja. Gue males banget kalau sampai ada yang liat kita dan jadi omongan tetangga," ujar Marsha disertai tawa.
Ya. Selalu kata-kata itu yang diucapkan Marsha ketika Julian melontarkan pertanyaan serupa. Entah hanya kata-kata penenang atau apa sebutannya.
Yang pasti ujaran itu disambut Julian dengan senyum kecut. "Gue kayak pengecut banget setiap anter jemput lo nunggunya di depan gang."
Tawa milik Marsha berangsur mereda. Ia meringis, takut membuat hati Julian ikut teriris. "Enggak gitu, Lian. Gue ngomong yang sebenarnya kok. Apalagi Mama juga pengen gue fokus sekolah. Dia nggak mau gue jadi omongan tetangga nantinya."
Untuk apa memperdulikan ucapan orang? Julian ingin sekali mengatakan itu jika saja Marsha tidak membawa embel-embel Mamanya. Apapun yang berhubungan dengan orang tua, Julian lemah.
Perlahan, Julian mengangguk mengerti. Ia tidak akan memaksa jika gadis itu sudah seperti ini. "Oke. Sana pulang. Gue jagain lo dari sini."
Marsha tahu betul kebiasaan Julian yang satu ini. Lelaki itu akan terus bertengger di atas motornya sampai memastikan Marsha aman masuk ke dalam sebuah gang. Setelah itu, barulah dia turut melenggang.
"Kalau gitu, gue duluan ya, Lian. Makasih."
Baru dua langkah berjalan, Julian sudah mencekal tangan Marsha membuat gadis itu berbalik arah. "Kenapa?"
"Cium dulu."
Kontan Marsha menjadi salah tingkah. Gadis itu menatap tajam Julian dengan pipinya memerah merona. "Ish apaan sih!"
"Cepetan, kalau nggak gue tahan nih di sini sampai semalaman," ancam Julian disusul satu seringaian.
Marsha tahu jika ancaman itu hanya sekedar gurauan belaka. Mereka tidak terikat hubungan tetapi lekaki itu seringkali memperlakukan dirinya spesial sebagaimana pasangan.