55#Urusan Hati

1.4K 65 10
                                        

Kalau lupa alur, harap baca dulu part sebelumnya!

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Pukul tiga dini hari, di saat orang-orang tengah terlelap dalam mimpi, seorang pemuda  dengan setelan serba hitam serta topi berjalan menuju sebuah klub

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pukul tiga dini hari, di saat orang-orang tengah terlelap dalam mimpi, seorang pemuda dengan setelan serba hitam serta topi berjalan menuju sebuah klub. Ia baru saja ingin masuk kalau saja tidak dikagetkan dengan seorang perempuan yang dikeluarkan secara paksa dari tempat itu.

Ia lantas berjejak mundur dan mengintip dibalik tembok, tampak mengenali gadis tersebut. Baru ketika petugas tempat itu menutup pintu rapat dan terdengar keluhan dari gadis itu, ia melebarkan matanya. Itu suara ....

"Ansel?"

Mulanya, Rainer hanya memperhatikan gerak-gerik Ansel yang terpengaruh oleh minuman. Ia tidak berniat mendekat setelah tahu bahwa gadis itu seorang pengkhianat. Ya, ia harus menjauh dari orang-orang The Zurrel.

Niat itu sudah berhasil ia tanamkan dalam diri tepat sebelum Ansel tiba-tiba saja lemas dan hendak ambruk di depan matanya. Ia terbelalak dan langsung saja menangkap tubuhnya sebelum gadis itu benar-benar pingsan.

"Ansel, Ansel," panggil Rainer sembari menepuk-nepuk pipi merah Ansel.

Gadis itu melengguh. Dengan mata yang masih terpejam ia bergumam, "Rainer ... Kayak suara Rainer ... Tolong, jangan pergi, Ner. Rainer sialan."

Rainer menarik napas mendengar Ansel yang meracau. Takut mereka akan terlihat orang dan penyamaran Rainer terbongkar, ia pun akhirnya membawa Ansel dengan menggendongnya dari belakang.

Sepanjang perjalanan itu, Ansel yang masih setengah sadar tak berhenti berbicara. Ia terus melantur dan berbicara asal meski Rainer terus diam.

"Adelard keterlaluan ...Kenapa nggak bunuh gue aja sekalian? Rainer jadi benci ...Benci gue ...."

Rainer memfokuskan kembali matanya lurus ke arah jalan meski hatinya mendadak tak karuan.

"Ambil aja cinta gue yang lo manfaatin!" tiba-tiba saja gadis itu berteriak kesal. "Gue simpen sisanya buat Rainer." Lalu setelah itu suaranya terdengar sedih dan parau.

Rainer berdehem singkat kemudian kembai mengeratkan tangannya pada kedua kaki Ansel. Posisinya yang tengah menggendong Ansel membuat gadis itu seperti berteriak tepat di samping telinganya. Kedekatan mereka seperti tak berjalak dari kali terakhir mereka bertemu.

"Rainer ...."

"Ck, kenapa lo terus manggil nama gue, padahal gue tepat di depan muka lo, An."

"Rain-"

"Stop. Lo kerja buat Adelard, lo memanfaatkan gue untuk kepentingan geng lo sendiri. Terus kenapa sekarang lo keliatan frustasi?"

Mengingat hal itu tentu membuat hati Rainer kian tergores. Apalagi ia baru saja menemukan tambatan hatinya setelah jatuh cinta dengan Isabella yang meninggal sebab mengidap leukemia. Ia lalu menurunkan Ansel di pinggir jalan tepat di depan sebuah ruko sepi.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang