"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juan menarik kerah Julian kasar persis seperti menarik seekor binatang yang ketahuan mencuri. Emosi milik Juan telah membuatnya berapi-api. Bagaimana tidak? Ia baru pulang kerja dengan Paps Jun tapi dirumah sudah disambut dengan tangisan milik Mamanya yang berkata bahwa tadi siang satu keluarga inti mendatangi rumah mereka karena Julian telah menghamili seorang perempuan.
Dan itu adalah temannya sendiri. Marsha, yang pernah dibawa ke rumahnya ini.
"BANG, UDAH BANG! KITA OBROLIN DENGAN KEPALA DINGIN!"
"Diam kamu, Juna!"
Baru sampai didepan pintu, Julian tiba-tiba mengibas tangan kekar Juan hingga tarikannya terlepas. Napasnya terengah. kedua tangannya terkepal. Dia berdiri menghadap Juan hingga mata nyalang mereka saling beradu pandang. Tangisan milik Mommy Jessica bahkan seakan teredam.
Juan mengusap wajahnya frustasi. Dia menelan ludahnya sendiri dengan perasaan gusar, setelah itu berkacak pinggang. "Dia ngegodain kamu? Atau kamu yang godain dia duluan?"
Julian menggeleng lemah. "Abang nggak akan percaya walaupun Julian cerita."
"OMONG KOSONG! KAMU NGGAK PERNAH MIKIRIN MASA DEPANMU, JULIAN!" Juan berteriak keras kemudian memejam sambil menarik napasnnya lagi dalam-dalam. "Marsha akan aborsi dan kalian putus."
Bukannya mengiyakan dan membuat Juan berhenti memukuli, Julian malah merogoh sesuatu di dalam saku dan menyodorkan pada Abangnya itu. "Usia kandungannya udah lima bulan. Aborsi juga hanya akan mencelakai Marsha karena beresiko tinggi."
Di saat itulah Juan merasa menjadi abang yang tidak berguna. Yang tidak memiliki kedekatan sama sekali dengan para adiknya. Bertahun-tahun mereka bersama, baru kali ini Julian berani menentang perkataannya.
Ia kemudian terkekeh sinis begitu melihat foto USG dan kemudian dilemparkannya begitu saja. "Astaga ...Dasar berandalan."
Masih berusaha menerima keadaan dengan lapang, Julian berjalan mengambil foto USG itu dan kembali mengantonginya. Pergerakannya Julian itu tak luput dari tatapan mata seisi rumah.
"Terus setelah ini mau apa? Mau ngasih makan anak orang dengan uang apa? Uang saku?"
Meski egonya sempat tersentil, Julian tetap memberanikan diri menatap Juan dengan berani. Baginya, hal seperti ini memang harus ia hadapi. Cepat atau lambat. "Julian sebentar lagi lulus dan bakal cari kerja."
"MEMANGNYA KAMU PIKIR AKAN SEMUDAH ITU?!"
"UDAH BANG, MALU SAMA TETANGGA!
Brukk!
Semuanya terlonjak setelah Juan melempar vas bunga yang tertata rapi di dinding. Lelaki itu kembali berjalan mendekat ke arah adik bungsunya. Berdesis tepat didepan wajahnya. "Kenapa kamu nggak berlutut memohon ampun?"