"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Darian menahan tawa. Setelahnya, mereka masuk dan segera menutup pintu. Menginterogasi si rambut merah sampai dia mau mengaku.
Si rambut merah gelagapan. Ia nampak menutup laptop, memandang penuh antisipasi ke arah Rainer dan Darian. Hal itu lantas digunakan Darian untuk menahan pergerakannya.
"Lo udah ketahuan. Sekarang lebih baik lo ngaku, hari dimana lo datang ke klub dan bawa ibu ketua kita, lo sama siapa?"
"Bajingan, jadi ini niat lo bertamu ke markas kita?" desis si rambut merah berusaha melepaskan tangan Darian yang menahan kedua tangannya di belakang persis seperti polisi yang memborgol seorang pencuri. Seketika dia berteriak, "TOLONG!"
Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Rainer cepat-cepat membungkam mulutnya dengan slayer yang ada di atas meja. "Tahan terus, yan."
Mendengar panggilan 'Yan' membuat si rambut merah langsung memusatkan perhatian pada Darian. Baru ketika Darian melepaskan masker karena sudah terlalu pengap dalam ruangan, kedua bola mata si rambut merah membesar.
'Darian pengkhianat, sialan'
Kira-kira begitulah jika dia bisa mengumpat sekarang. Si rambut merah terus berontak meminta dilepaskan. Oleh karena itulah Rainer dan Darian dengan cepat mengikat kedua tangannya. Kemudian Darian melangkah maju, ada sesuatu yang ingin ia katakan sejak lama.
"Lo pasti kaget, Bang kenapa gue berada di pihak Xavior gang. Gue awalnya emang manut-manut aja karena kalian ngasih imbalan yang besar dan itu berguna banget buat adik-adik gue yang masih kecil dan sekolah. Tapi gue pikir-pikir lagi, makin kesini kalian makin maksa dan nggak jarang gue dipukulin juga. Setelah gue ketemu sama Bang Rainer dan Bang Julian, gue baru sadar kalau ternyata kalian merencanakan kejahatan. Bahkan gue baru sadar kalau uang yang selama ini gue kasih untuk adik gue makan... Itu uang haram."
Penasaran dengan tanggapan si rambut merah, Rainer membuka penutup mulut itu dan seketika si rambut merah tertawa remeh. "Lo masih mikirin duit itu haram atau halal, what the fuck, man!"
Darian menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Gue mau berenti, Bang. Gue mau cari uang secara baik-baik."
"Lo pengkhianat, Darian," desis si rambut merah seraya menggeleng tidak habis pikir. "LO PENGKHIANAT ANJ-"
Begitu si rambut merah berteriak, Rainer buru-buru kembali membekap mulutnya. Lalu demi lelaki itu mengaku, Rainer mengeluarkan alat setrum yang besarnya se-genggaman tangan yang ia bawa untuk perlindungan diri.