17#Cerita dari Rumah Kedua

6.8K 680 522
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3

Bagi anak-anak Xavior gang, baik ketua mereka maupun para anggota menganggap markas besar bukanlah sekedar tempat kumpul semata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagi anak-anak Xavior gang, baik ketua mereka maupun para anggota menganggap markas besar bukanlah sekedar tempat kumpul semata.

Di sini, mereka bisa berbagi keluh kesah. Anggap saja sebagai rumah kedua. Tapi haram untuk mereka ketika seseorang bercerita, lalu ada yang menyela, 'Lo mah masih mending, lah gue?'

Nanti malah jadi adu nasib dan melupakan siapa yang tengah berbagi masalahnya. Nanti yang ada orang itu enggan lagi untuk bercerita. Sedangkan bercerita adalah satu-satunya cara agar yang punya masalah menjadi lega.

Dan itu adalah tugas mereka sebagai sahabat. Jadi Julian berkata, jika ada satu orang diantara kita yang sedang dilanda masalah lalu berbagi keluh kesah, maka dengarkan. Jika tidak bisa memberi saran, maka angkat tanganmu. Tepuk-tepuk punggungnya, dan katakan padanya bahwa kamu tidak sendirian.

Sepulang dari Pandawa, Julian bersama Marsha segera bergegas menuju markas usai menerima panggilan dari Arsenal bahwa telah terjadi kekacauan.

Marsha yang hendak diantarkan pulang oleh Julian terpaksa harus ikut dengannya. Di waktu yang sama, ia tak henti-hentinya mendapati kepanikan di raut wajah Julian yang begitu kentara.

Bagaimana tidak? Para anggotanya kembali berbuat ulah.

"Lo tunggu di sini dulu bentar ya," titah Julian penuh lembut.

Tanpa menunggu balasan Marsha lebih dulu, lelaki itu melompat turun dari motor dan berlari masuk ke dalam markas dengan napas memburu.

"Lian, gue ikut!"

Marsha yang tak ingin ditinggal sendiri di kawasan sepi ini turut mengikutinya dari belakang. Pandangan gadis itu mengedar ketika kakinya berpijak di ruang tamu. Menyadari adanya ketegangan, Marsha bersembunyi di balik punggung tegap Julian. 

Sementara Julian mengusap wajahnya gusar. Satu hal yang menyambutnya datang adalah dua anggota inti dengan wajah penuh lebam.

"Lo berdua ada apa?" tanyanya mengintimidasi Gama dan Gentala yang duduk bersebelahan di atas sofa.

"Gue tanya sekali lagi, lo berdua kenapa bisa babak belur gini?"

Alih-alih menjawab, dua anggotanya itu malah saling melempar pandang. Membuat sorot mata Julian kian menajam. Lelaki itu kini bahkan tengah berkacak pinggang.

"Gini, Lian.." Arsenal menghadap Julian berniat menjelaskan.

"Apa? Masalah perempuan?" tebak Julian. Nampaknya lelaki itu sudah sangat muak dan lelah untuk memancing mereka bicara.

Arsenal tertawa. Lelaki yang mendapat predikat buaya darat itu memang tidak tahu situasi. Membuat Julian terus menatapnya sangsi.

"Kalau masalah perempuan, Gentala pasti ngarahnya bukan ke Gama, tapi ke gue," ujarnya pongah.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang