"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Julian duduk di hadapan bu Sri sebagai wali kelasnya di ruang guru yang sepi. Tentu isu tak menyenangkan ini sudah merebak sampai ke penjuru SMA Arwana. Bagaimana ketua Xavior gang—si tengil Julian telah menghamili seorang siswi yang juga menjabat sebagai sekretaris OSIS sekolah.
Sejak kali pertama perjumpaan mereka, Bu Sri tak berhenti mengela napas. Biasanya ia bicara dengan Julian hanya untuk membahas nilai matematikanya yang kurang atau kelakuan teman-temannya yang diluar nalar. Tetapi kini ia bahkan bingung ingin mengucapkan apa selain mengajukan pertanyaan. "Apalagi Julian?"
"Saya akan bertanggung jawab penuh, Bu."
"Ngomong kaya gitu sama keluarga Marsha, bukan sama ibu. Walaupun sebagian orang bilang ini karena jebakan, ibu harus percaya apa, Julian?"
Julian yang semula merunduk kini mulai mengangkat pandangan. "Saya paham, Bu. Paling nggak, ibu meloloskan saya untuk ikut ujian terakhir sekolah sampai saya menemukan bukti kalau memang saya nggak bersalah."
Bu Sri menggeleng tegas. "Enggak bisa. Yang punya peraturan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah adalah kepsek kita. Ibu nggak punya kewenangan untuk itu."
Seketika Julian teringat ucapan abang-abangnya kala itu ....
"Tapi sekolah itu bukan punya bapakmu, Julian. Kamu pikir sekolah akan bagaimana setelah kalian mengaku Marsha telah hamil diluar nikah?"
Dari sederet efek yang timbul karena masalah ini, Julian menyadari bahwa sekolah adalah hal kedua yang paling sulit ia taklukan setelah keluarganya. Tidak ada yang dapat memenuhi pikiran semua orang selain dirinya yang brengsek, terjerat pergaulan bebas dan terlalu bodoh sebagai anak muda.
Mereka tentu tidak akan bertanya siapa yang menjebaknya. Bahkan mungkin tidak pernah mempunyai pikiran itu.
Kedua bola mata Julian berputar. Berusaha berpikir keras. "Kalau memang saya harus dikeluarkan secara paksa, apa ada kemungkinan untuk Marsha masih bisa melanjutkan sisa-sisa sekolahnya? Marsha saja, Bu ....""
Karena Julian sadar, Marsha lah yang mempunyai cita-cita sebesar itu.
Bu Sri menggeleng tidak habis pikir. "Ibu bingung kenapa kamu masih bertanya begitu. Waktu kamu melakukan itu, kenapa nggak terlintas di pikiran kamu bahwa ini bisa saja terjadi?"
"Apa, Julian? Ini resikonya. Kamu nggak pernah belajar dari kesalahan kalau kamu nggak nanggung resikonya." Bu Sri mengalihkan pandangannya dari Julian ke buku absen yang dia pegang di atas meja. "Sudah diajarkan banyak hal tapi anak muda memang suka penasaran."