74#Jenderal Sekolah

863 40 9
                                        

KURANG DARI 5 PART LAGI MENUJU ENDING! VOTE DAN KOMEN KARENA KITA NGGAK AKAN KETEMU LAGI🥺🫶🏻

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

"Sha, kamu baik-baik aja?" Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar setelah Julian memikirkan banyak hal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sha, kamu baik-baik aja?" Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar setelah Julian memikirkan banyak hal.

Marsha menggeleng lemah.

"Kamu sadar kan Jenderal itu anak kita?"

"Jenderal bukan anak kamu, Julian." Marsha mendongak menatap tajam Julian dengan linangan air mata yang jatuh perlahan di pipinya.

Julian menelan salivanya susah payah sambil memejam. "Enggak. Jenderal anak kita. Tuhan ngirimin dia ke kita karena Tuhan mau kita yang jaga." Lelaki itu meluruhkan segenap jiwanya. Berlutut dengan kedua kakinya terlipat. Mengenggam tangan Marsha erat-erat. "Jadi aku mohon, Sha... Tolong jaga dia. Demi aku-"

"KENAPA KAMU JADI KAYAK MEMOHON SAMA PENCULIK? KENAPA KAMU MERASA AKU SEJAHAT ITU? AKU NGGAK SENGAJA! KAMU TAU NGGAK, AKU NGGAK SENGAJAAAA!!"

Julian tersentak luar biasa. Marsha berteriak sampai genggaman tangannya terlepas. Dia memberontak dan itu membuat Julian menggeleng tidak percaya. Dia seperti menemukan Marsha dalam versi yang pertama kali dia temui.

Keras dan sulit dimengerti.

Julian mungkin sudah menyiapkan banyak kesabaran sebelum menikahinya, tetapi... Marsha lupa bahwa dia juga manusia.

Julian mengangguk-angguk. "Kalau begitu, biar aku minta tolong sama Mom Jess aja buat jaga Jenderal kalau aku nggak ada."

"Kalau gitu, kenapa nggak sekalian kita cerai aja?"

Bagai tersambar petir di siang bolong, Julian melotot tidak percaya. Tidak. Bukan seperti itu jawaban yang ia harapkan. Kali ini Julian terdiam. Sangat tertohok. Begitu menyakitkan.

Julian sudah akan membanting meja. Berteriak lantang bahwa dia pun lelah dan mengiyakan permintaan Marsha. Tetapi tiba-tiba sekelibat ucapan ibu tua di kantor polisi tadi terngiang di kepalanya.

Flashback On

Julian menangguk haru sambil menggenggam hangat tangan ibu itu. "Terimakasih, bu." Ia kemudian mendekat untuk berbisik. "Istri saya meninggalkannya bukan dengan sengaja. Dia menderita bipolar dan sering mengalami depresi."

Tentu Julian tak mau istrinya dipandang jahat hanya karena lalai menjaga anak. Lalu ibu tua itu mengangguk paham. Dia juga tak meluruhkan senyum hangat di wajahnya dan malah menepuk pundak Julian bangga. "Kamu hebat karena menjadi suaminya. Kelihatan kalau cintamu padanya lebih besar."

Julian merunduk seraya tersenyum kikuk. Ibu itu benar. Dia telah jatuh cinta pada Marsha bahkan pada kekurangan gadis itu sendiri. jadi dia menerima buruk dan baiknya dengan kerelaan hati.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang