"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah kecil milik Marsha mengantarnya sampai di depan kelas Julian. Bell istirahat baru berbunyi beberapa menit yang lalu, kelas itu nampak berisik dan ramai. Tanpa memanggil nama lelaki itu lebih dulu, Marsha berdiri memperhatikannya dari daun pintu.
"Hoki bener lo, Jul dapet nilai delapan puluh," puji Gama yang duduk di samping Julian.
"Curiga gue Bos Jul dikasih akses penuh buat nyontek sama kanjeng ratu," ujar Arsenal menyindir Claudia yang notabene teman kecil Julian. "Giliran gue nanya aja si Chloui pura-pura congek."
"Udah gue bilang dulu Chloui juga belajarnya sama gue waktu TK," sahut Julian santai sembari memasukkan buku ke dalam tas.
"Heh, waktu gue TK berarti lo juga TK ya anying, jangan sok tua deh lo!" seru Claudia, gemar marah-marah seperti biasanya.
Sebagai murid terpintar di kelas, Claudia selalu tampak kesal jika diledek oleh Julian dan teman-temannya apalagi jika muncul opini bahwa ia hanya berbaik hati pada Julian saja. Meski memang benar adanya, tapi hal itu tidak berlaku untuk ujian di sekolah. Akhirnya setelah mendengar ocehan Claudia, mereka semua tertawa.
Sementara Marsha tersenyum setipis benang. Ia tahu satu hal yang akan ia beritahukan pada Julian setelah ini akan melenyapkan senyum cerah milik lelaki itu. Tetapi Marsha juga tidak sanggup memendamnya sendirian. Ia merunduk sampai salah satu teman Julian menyadari kehadirannya.
"Loh, Marsha?" kaget Gama yang masih duduk ditempatnya.
Julian tergelak lantas mengangkat pandangannya. Senyumnya mengembang begitu menemukan Marsha berdiri kaku di depan pintu kelas. Setelah sekian lama gadis itu menjauh, akhirnya ia menemui Julian lagi untuk pertama kali.
Tak mau membuang waktu, Julian dengan antusias melangkah mendekatinya. Tetapi yang ia lihat justru wajah pucat Marsha dengan mata bengkak yang memerah. "Sha? Ada apa? Kok mata lo ...."
"Gue mau ngomong, Lian."
"Tapi lo baik-baik kan? Atau ada yang ganggu lo?"
Marsha menggeleng cepat. Meski tak sanggup membayangkan sekaget apa ekspresi Julian nanti, Marsha tetap ingin membuang beban yang ia tanggung sendiri selama berhari-hari ini. Ia ingin kesedihannya juga terbagi.
Bagaimana pun juga kejadian itu tetap melibatkan mereka berdua. Tak adil rasanya jika Marsha yang menanggung semua derita.
Maka lepas beberapa detik menguatkan hati, Marsha akhirnya bicara lagi. "Ikutin gue ke taman belakang sekolah." Hanya itu yang ia katakan sebelum berbalik meninggalkan Julian.
Kontan Julian kebingungan, tapi tak urung tetap mengikuti langkah Marsha dari belakang sehingga teman-temannya mulai memanggil.