"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Marsha kembali ke rumah setelah berpaitan dengan Julian. Gadis itu membuk pintu kamar dan terlonjak begitu mendapati sang Mama tengah melipat bajunya yang sempat berserakan di atas kasur. Marsha segera melangkah mendekatinya.
"Ma, Mama ngapain? Biarin aja nanti biar Marsha yang rapihin."
"Mama tadi lagi liat-liat kamar kamu. Kamu habis darimana, Sha? Siapa yang kamu temuin malem-malem begini?"
Marsha mengalihkan pandangannya ke bawah begitu merasa diinterogasi Miranda. "Cuma ketemu teman."
"Terus belanjaan itu punya siapa?" tanya Miranda berdiri dan menunjuk dua kantong belanjaan disudut ruangan menggunakan dagunya.
Marsha tergelak menatap sang Mama. Ia membasahi bibirnya menyadari bahwa Miranda sudah tahu soal dua kantong plastik itu. Tapi apakah dia juga tahu soal isinya?
"Ah... Itu ...Punya temen Marsha, Ma," ujarnya sedikit terbata. "Iya punya temen Marsha."
Sadar akan gerak-gerik putrinya yang terlihat gugup luar biasa, Miranda memincungkan kedua matanya. "Tapi kok Mama lihat ada susu ibu hamilnya?"
Disitulah kedua bola mata jernih Marsha nyaris keluar dari tempatnya. Mulutnya menganga sebelum kembali bersuara. "Ma- Ma, itu punya teman Marsha. Kakak kelas, iya kakak kelas! Sekarang udah lulus terus punya anak. Dia nitipin itu sama Marsha karena mau keluar sama suaminya."
Beruntung kali ini Marsha menjelaskannya secara runtut. Jadi Miranda yang tadinya memperhatikan dengan menyelidik kini mulai percaya. Wanita separuh baya itu mengangguk-angguk. "Yauda kalau gitu, udah malem mending kamu tidur biar nggak telat sekolah."
"Iya, Ma."
Setelah itu Marsha baru bisa bernapas lega setelah Miranda akhirnya keluar dari kamarnya. Ia bersender pada pintu seraya memejamkan mata. Kali ini ia mungkin bisa beralasan tapi bagaimana nanti jika perutnya membesar?
Marsha membuka mata dan memegang perutnya. Ia belum sanggup berkata yang sesungguhnya pada Miranda. Bahkan kalau boleh memilih, lebih baik Marsha tinggal di tempat yang jauh tanpa memberitahu ibunya sama sekali.
****
Hari ini jam pelajaran olahraga dimulai sekitar pukul sembilan pagi. Hanya untuk kelas 12 IPA 2, yaitu kelas Marsha. Sesuai paktek yang akan dilakukan, mereka berkumpul di lapangan basket. Berbaris dan mendengarkan intruksi guru olahraga.
Marsha berbaris di depan Nadine dan mendengarkan dengan saksama. Sebetulnya ia agak ragu mengikuti olahraga hari ini sebab takut terjadi hal yang tidak-tidak. Apalagi ia akan lebih banyak berlari nanti. Namun izin secara mendadak tanpa alasan yang jelas juga bukan keputusan yang bagus. Takutnya nanti orang-orang malah akan curiga.