63#Hidup Sederhana Bareng Marsha

1.4K 60 3
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Beberapa hari setelah memutuskan untuk pergi dari kediaman Winata dan meminta izin pada keluarganya, Julian akhirnya menemukan sebuah kontrakan sederhana di salah satu desa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa hari setelah memutuskan untuk pergi dari kediaman Winata dan meminta izin pada keluarganya, Julian akhirnya menemukan sebuah kontrakan sederhana di salah satu desa. Tidak kumuh-kumuh amat memang, tapi untuk sampai masuk ke dalam mereka harus melewati banyak gang.

Respon dari Paps Jun dan Juan sesuai dengan dugaan Julian. Mereka seolah acuh tak acuh apalagi sebelumnya mereka marah besar dan masih belum bisa menerima fakta bahwa Julian menghamili seorang perempuan.

Akan tetapi Julian menerima itu. Dia keluar dengan langkah besar dan hati yang lapang. Beberapa barang yang diperlukan seperti perabotan rumah tangga serta kasur di kamar Julian telah disiapkan Mom Jess untuk dibawa. Bahkan Mommy nya itu juga menyuruh orang untuk merapikan barang agar kontrakan bisa langsung ditempati.

"Ayo masuk, Sha." Julian menuntun Marsha ditengah-tengah para tukang tengah berlalu lalang.

Lelaki itu tidak asal-asalan memilih kontrakan. Ia memilih yang tidak terlau besar asal nyaman. Ruang tamu kecil, sebuah kamar, dan dapur yang berdekatan dengan kamar mandi.

"Kalau kamu ngerasa sempit, kita bisa pindahin lemari atau barang apapun biar kamu nggak ngerasa terlalu sesek, Sha," ujar Julian.

Lelaki itu kemudian menuntun istrinya sampai ke dapur. Rak piring kecil, pantry yang cuma segaris dilengkapi dengan wastafel. Marsha tidak terlalu suka memasak, jadi ini harusnya tidak jadi masalah.

Ya. Kalau saja tidak ada kecoa yang tiba-tiba muncul dari balik panty tersebut dan menggerayang tepat di kaki Marsha. Gadis itu memekik keras. "AAARGHH KECOA!!"

Spontan Julian ikutan panik. Lelaki itu kemudian berniat menangkap kecoa namun binatang itu keburu lari. Ia hanya mendekap Marsha begitu gadisnya refleks memeluk tubuhnya yang tinggi.

"Udah, Sha. Dia udah pergi."

Masrha menghembuskan napas lelah. Baru kurang dari sehari saja sudah ada kejadian tidak mengenakan begini. Sebenernya ia juga bukan berasal dari keluarga kaya, tetapi jika dibanding dengan rumahnya dan Miranda, kontrakan ini masih lebih kecil dan ia belum terbiasa.

Selang satu jam kontrakannya rapi, Julian dan Marsha berada di kamar. Julian tengah merapikan baju-baju untuk ia susun di lemari sementara Marsha dimintanya untuk rebahan saja. Ia tidak mau istri kecilnya itu terlalu lelah.

"Mama mau mampir kesini katanya," ucap Marsha setelah menerima pesan dari ponsel yang ia genggam.

"Mama Miranda?"

"Iya."

Julian mengangguk-anggukan kepala. "Yauda suruh kesini aja. Aku juga mau keluar, Sha mau tanya-tanya soal ijazah. Biar kamu di sini ada temannya."

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang