65# Permintaan Maaf Bang Juan

1K 60 1
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Setelah memarkirkan mobilnya jauh sebab kontrakan Julian berada di dalam sebuh gang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah memarkirkan mobilnya jauh sebab kontrakan Julian berada di dalam sebuh gang. Juan akhirnya sampai. Sebagian besar orang memperhatikannya sepanjang jalan. Berpikir mengapa sosok pria tinggi berkulit putih dengan setelan jas rapi tiba-tiba mendatangi tempat seperti ini.

Juan memandang rumah itu dengan wajah yang sarat akan keprihatinan. Ia dan adik-adiknya terbiasa hidup enak dan dilingkupi oleh kasih sayang yang cukup. Mengetahui fakta bahwa Julian bisa mengambil keputusan sebesar ini untuk menikahi dan hidup sederhana dengan gadisnya membuat hati Juan terasa perih.

Oleh karena itu, ia mungkin akan berbicara pada adik kecilnya lalu membujuknya untuk tinggal di rumah yang lebih aman. Ia sudah mengangkat tangannya, hendak menarik kenop pintu kalau saja ponsel tidak bergetar di dalam saku.

"Hallo." Juan mengangkat telepon segera.

"........"

"Oke, saya kesana sekarang."

Terpaksa Juan kembali menarik tangannya. Kesibukannya di kantor kerap menyita waktu yang ia punya. Ia berbalik badan lalu segera melenggang.

Mungkin Juan akan mengurus hal ini lagi nanti.

****

"Assalamualaikum istri ....Sha, kamu dimana?"

Julian tiba ke dalam rumah dengan senyum sumringah. Dia melepas sepatu, dengan keadaan baju yang sama kotornya setelah seharian berkecimpung dengan oli.

"Aku ada di dapur, Lian."

Setelah pekikkan Marsha akhirnya terdengar, Julian segera berjalan menuju dapur dengan kantong plastik di tangan. Di sana lah ia bisa melihat punggung kecil istrinya yang tengah memindahkan masakan dari wajan. Marsha memakai daster sederhana dan rambut yang dicepol asal.

Julian memeluknya dari belakang. Mengangkat gerai rambut Marsha lalu menciumi lehernya yang indah. Ya, itu bisa saja terjadi kalau saja pikiran sialan tiba-tiba terbesit di dalam kepalanya.

"JUL, MARSHA BELUM CINTA."

"INGET, KITA MENIKAH KARENA TERPAKSA."

"Dan Marsha belum mengakui kalau dia cinta sama lo. Bisa jadi pas lo peluk dari belakang, tuh panci sama sodet ngehantem muka lo."

Bagian dirinya yang lain seolah mengingatkan Julian dan membuatnya kerap berperang dengan pikiran sendiri. Ia selalu bimbang antara memperlakukan Marsha layaknya istri, atau bersikap biasa saja dan menunggu Marsha balik mencintai.

"Kamu bawa apa?"

Lamunan Julian buyar. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal lalu menjinjing kantong kresek itu tanpa rasa bersalah. "Bakso."

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang