"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di jam istirahatnya, Julian bersama seorang rekan kerja di bengkel memutuskan untuk membeli kopi di sebuah kedai. Ia mengobrol ringan. Berjalan di pinggir jalan raya sebelum sesuatu yang dilihatnya begitu membuatnya terbeku.
Marsha berjalan pelan di tengah ramainya kendaraan di sana. klakson berbunyi nyaring. Bahkan sorakan dari orang sekitar seolah tak mengubris istrinya. Ya. Itu istrinya. Ucapan dari rekannya di samping seolah teredam. Apalagi ketika satu kendaraan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tangannya bergetar. Bahkan kopi yang dipegangnya barusan terjatuh mengenaskan. Julian berlari sekencang-kencangnya. Ia tarik dan peluk tubuh ringkih itu, membawanya ke pinggir jalan raya.
"SYUKURLAH YA, TUHAN!"
"Gimana keadaannya, Mas?"
"Ini istri saya," jawab Julian terengah-engah. Dia membawanya duduk perlahan-lahan.
Semua orang mengerumuni mereka. Ada yang menyalahkan Marsha, ada juga yang bersyukur sebab gadis itu akhirnya diselamatkan. Marsha menangis dalam pelukan Julian. Tubuhnya begetar hebat. Ia begitu terkesiap.
"Sha?" Julian memanggil lembut. Tangannya menepuk-nepuk pipi Marsha dan mengusapnya halus. "Enggak papa, Sha. Ada aku. Aku di sini. Kamu tenang sekarang."
"Lian, sa-sakit..." ringis Marsha mulai memegangangi perutnya.
Kontan mata Julian membulat. Ia memang menarik Marsha pelan namun dia tidak tahu apakah bayi di dalamnya yang kian membesar mengalami goncangan. Terlebih ibunya sedang stres dan kaget.
"Tolong telepon ambulance," putusnya detik itu juga.
Tak lama kemudian, ambulance datang. Marsha dibawa ke rumah sakit bersama Julian yang mendampingi. Lelaki itu izin dan berpamitan pada rekannya tadi. Segala rapalan doa tak lekang dari lubuk hatinya. Semoga bayi ini akan baik-baik saja.
Tentu lagi-lagi, dia tidak salah apa-apa.
****
Di rumah sakit, ketika Marsha telah diperiksa oleh dokter dan Julian mendapat info bahwa istrinya baik-baik saja dan harus istirahat ekstra, lelaki itu baru bisa bernapas lega. Ia membantu Marsha duduk dengan menyenderkan tubuhnya di kepala brankar.
Akan tetapi raut wajah Marsha saat itu terlihat ditekuk. "Kamu khawatir in aku atau bayi ini?" tanya nya dengan nada datar.
Julian balik menatap heran. "Kok kamu nanya nya gitu, Sha?" Julian bertanya masih dengan nada yang tenang. Ia duduk lagi di samping brankar perlahan.
Marsha mendengus. "Kelihatannya kamu cuma khawatir sama bayi ini." Matanya melengos dari sepasang mata Julian. Gadis itu menatap datar ke depan. "Seandainya bayi ini selamat dan aku nggak, kayaknya kamu bakal tetap senang-senang aja. Aku tau selama ini kamu ngurus aku karena ada dia."