"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini kalau nggak kerjaannya si jablay Arsenal, pasti kerjaannya Milan. Emang salah banget gue milih anggota yang namanya pake nama klub bola. Otaknya sama aja."
Julian mencak-mencak sambil menutup pintu kamar. Tak berhenti sampai sana, tepat setelah ia berbalik badan hendak menuruni tangga, sepasang mata Julian malah melihat satu beban lagi dalam hidupnya tengah berdiri beberapa langkah darinya sambil menutup mulut berusaha menahan tawa.
Sontak Julian tersentak. Ia menjadi salah tingkah apalagi baju kurang bahan itu masih berada digenggamnya. Ia berdehem kemudian langsung bertanya galak.
"Kenapa lo, Junaedi?"
"Apaan tuh, tot?" tanya balik Juna, abang keduanya yang kini tengah melirik-lirik ke arah piyama yang dipegang Julian.
"Kepo bener, lo!"
Di saat itulah Juna tak bisa menyembunyikan tawanya. Lelaki yang berjarak usia tiga tahun di atas Julian itu kini berjalan mendekati sang adik. Merangkul pundaknya sambil berbisik. "Gimana nih malam pertama?"
"Sialan. Diem lo, bang!" desis Julian melotot tajam. Selain malu, ia juga takut jika suara sember Juna terdengar oleh Marsha di kamar.
"Gue denger-denger tadi dari kamar lo berisik banget. Lo nyuruh Marsha kayak, "Ayo, Sha buka. Penasaran nih sama isinya." Gue nggak nyangka lo se excited itu," ujar Juna sambil memperagakan bagaimana suara perempuan bicara yang malah terdengar seperti banci kurang belaian di telinga Julian.
Kedua pasang mata Julian melebar. Jadi dari tadi si Junet pemilik vespa biru yang katanya soft boy incaran para wanita itu menguping pembicaraan dirinya dan Marsha?
Demi tetap terlihat tenang, Julian mengatupkan mulutnya sambil pura-pura terkekeh samar. "Jadi lo beneran mau ngawasin gue sampe subuh?"
"Yes, of cours. Gue pengen tau sejago apa adik nakal gue kalau lagi sama cewek." Setelah mengatakan itu, Juna yang masih merangkul pundak Julian tiba-tiba saja merebut piyama di genggaman adiknya kemudian ia rentangkan begitu saja di depan mata. "Wow ..."
"Anjing," umpat Julian kecolongan.
Dengan cepat Julian bergerak berusaha mengambil piyama itu yang hasilnya sia-sia. Sementara Juna menggeleng tidak percaya. "Ade gue udah gede. Bisa-bisanya nyimpen beginian. Ini kalau gue aduin Mom Jes sama Paps Jun seru nih."
Detik itu juga kedua mata Julian nyaris keluar. Lelaki itu tadinya mau memiting leher Juna seperti biasa namun naasnya, abangnya yang jahil setengah mati itu keburu berlari menuruni tangga. Membuat Julian kian panik luar biasa.
"JUNAEDIIIIIII!!!" seru Julian langsung berlari mengejar.
"PANTES AJA GUE DENGER LO NYURUH MARSHA BUAT BUKA-BUKA HAHAHAHAHA."