"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dalam dinginnya udara pagi yang menusuk kulit, Julian berlari-lari kecil bersama Marsha di sampingnya. Sesekali gadis itu tertinggal oleh langkah besar milik Julian, lalu Julian akan tertawa mengejek tetapi tetap menunggunya juga.
Setelah hampir setengah jam lari pagi, Julian memutuskan mengajak Marsha ke sebuah taman rimbun dimana mereka beristirahat. Mereka duduk dengan kedua kaki ditekuk. Sepasang mata mereka menikmati pemandangan sebelum akhirnya Julian menyeletuk.
"Sha, aku mau ajak kamu pindah rumah."
Kontan, Marsha menoleh cepat ke Julian. "Pindah rumah? Kemana? Kan kita nggak punya rumah."
Julian meringis. "Makanya kita cari dari sekarang."
Marsha berpikir sejenak. Ia tidak tahu apa yang dialami Julian sampai harus mengatakan pindah rumah. Karena selama ini yang ia lihat, Julian mempunyai keluarga yang Cemara dan kaya raya.
"Tapi Lian, uang darimana?"
Ya. Marsha harus terang-terangan bertanya sebab mereka baru saja lulus SMA. Punya rumah sendiri dan uang untuk makan sehari-hari rasanya mustahil. Terlebih saat ini, Marsha masih hamil dan beberapa bulan lagi akan lahiran. Namun keraguan itu ditepis oleh Julian.
"Aku bakal cari kerja. Tapi selama aku nyari, aku ada uang tabungan yang bisa dipakai dulu buat kebutuhan kita nantinya."
"Lian, tapi kamu harus kuliah."
"Kuliah bisa kapan aja, Sha. Yang terpenting sekarang aku harys kerja, kita pindah rumah entah itu kontrakan atau apa. Emang kamu ngerasa nyaman aja tinggal bareng mertua?"
Marsha merunduk. Perasaannya campur aduk. "Aku nyaman dengan fasilitas yang dikasih sama Mom Jess tapi aku selalu ngerasa nggak enak hati."
"Aku paham perasaan kamu." Julian merubah posisi duduknya menyamping, ia genggam kedua tangan kurus Marsha dan meyakinkannya. "Kita mungkin bakal hidup sederhana setelah pergi dari rumah itu, tapi aku nggak akan ngebiarin kamu susah. Yang kaya itu memang orang tua aku, Sha. Tapi aku bakal bekerja keras buat kamu dan ...Anak kita."
Marsha sendiri merasakan hangat yang ia tidak temukan dimanapun. Bahkan embun pagi yang menetes kalah sejuk dengan perasaan Marsha saat ini. Bukan hanya ucapan, Julian menunjukkannya lewat tatapan mata. Tampak tulus dan penuh cinta.
Lalu ketika Julian kembali meluruskan posisi duduknya, perlahan kepala Marsha bersender pada bahu tegap suaminya itu. Entah mengapa dari tutur kata Julian saat ini, Marsha semakin tidak enak hati. Peristiwa dimana mereka tiba-tiba saja tertidur di atas ranjang tanpa pakaian terlintas di atas kepalanya.
Ia yakin betul Julian tidak mungkin dengan sengaja melakukannya. Dia marah dan dia tahu dia dijebak. Tapi dalam banyak pilihan, Julian justru memilih berjalan bersama Marsha dan memeluk trauma yang ia punya.