"Kalau lo tau gue depresi, gimana?"
"Gue temenin. Gue bantuin lo sampai lo sembuh. Gue bakalan jadi obat buat lo-"Ada jeda setelahnya. Dimana sepasang mata tajam Julian menyipit membaca name tag pada seragam gadis di hadapannya. "Marsha Ilona."
****...
Pembaca yang baik adalah mereka yang tau caranya menghargai karya orang lain.
Happy reading<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Julian memutuskan pulang ke rumahnya di waktu jam makan malam. Ia sudah tak berenergi berada di markas besar dan terlalu pusing menanggapi masalahnya sekarang. Di saat-saat seperti ini, keluarganya yang tak tahu menahu menyambutnya riang. Menyuruhnya makan persis seperti dirinya kecil dulu setelah pulang main seharian.
"My Julli, kok kamu baru pulang, sayang?" Mom Jess, ibunya adalah orang yang pertama kali menyapa ketika Julian baru menutup pintu.
Julian berdiri kaku. Menatap anggota keluarganya satu persatu.
"Mau mandi dulu atau makan dulu?" tawar Mom Jess seperti biasanya.
"Ah, mending makan dulu aja. Kalau mandi nggak ada tenaganya juga nggak enak kan," ujar Paps Jun disusul gelak tawa.
Juna yang baru saja mengunyah ikut bersuara. "Lagian sibuk bener lo, Julian udah kayak sekretaris negara."
Abang pertamanya, Juna hanya geleng-geleng kepala menanggapi ocehan satu keluarganya ketika meledek Julian. Sementara yang diledek justru merasa ingin menangis. Ada sesuatu yang meledak dalam benaknya. Bagaimana ia seperti menghianti keluarganya sendiri. Ia tidak bisa memikirkan akan bagaimana jadinya ketika Paps Jun, Mom Jess, Juan atau Juna tahu satu fakta tentangnya nanti.
Tak mau berlarut dalam kesedihan, juga tak mau sampai mereka tahu sesuatu yang ia sembunyikan, akhirnya Julian melangkah maju menuju meja makan. Tak seperti bisanya yang selalu banyak bicara, Julian kali ini hanya diam ketika Mom Jess menyendokkan sepiring nasi.
Namun ternyata hal itu disadari oleh Juna. Tentu saja ketika ia hampir setiap hari bertengkar dengan si bontot merasa aneh sebab baru kali ini Julian tampak anteng dan tak mengajaknya bercanda sama sekali. "Kenapa lo? Putus lagi sama si Marsha?"
Uhukuhukk
"Kenape sih lo, Junet?" Julian bertanya dengan wajah memerah.
"Lah lo yang kenapa? Tumben diem mulu."
"Lagi males nanggepin ocehan lo."
Padahal yang sesungguhnya ia rasakan adalah ia senang masih mendengar Juna, abangnya dengan semangat mengajaknya bicara.
Juna kontan mengerutkan kening bingung. Sementara Juan segera mengambil alih. Ia mengerti perasaaan anak muda seperti Julian yang terkadang tak menentu. "Udah Juna kamu fokus makan aja. Nggak baik juga makan sambil ngobrol."
Juna berdecak. "Iya, bang. Iya...."
Julian menoleh ke arah Juan. Abang pertamanya itu masih mengenakan kemeja serta dasi yang menggantung rapi. Ia tampak tenang dan seperti tak tahu apa-apa. Entah mengapa Julian semakin merasa bersalah.