70#Berita Besar

946 41 10
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Jam 2 pagi, dimana semua orang beristirahat dengan damai, rumah kecil yang ditinggali Julian dan Marsha justru dipenuhi suara nyaring bayi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jam 2 pagi, dimana semua orang beristirahat dengan damai, rumah kecil yang ditinggali Julian dan Marsha justru dipenuhi suara nyaring bayi. Mereka berdua terusik. Lantas segera bangun untuk mengecek Jenderal yang suaranya menurut Arsenal sudah seperti toa masjid.

"Anak ayah bangun..." Julian segera menepuk-nepuk bokong kecil anak laki-laki itu. Ia melirik ke arah Marsha.

Setelah melihatnya terganggu, Julian pikir istrinya itu akan segera bangun dan menggendong Jenderal, tetapi dia malah berdecak dan menutup telinga dengan bantal. Mau tak mau, Julian bergerak untuk menggendong bayi itu. Lalu membuatkan susu.

Marsha tidak bisa memberi asi sebab dokte bisa bilang produksi ASI istrinya sangat sedikit karena stres ekstrem dan kelelahan mental. Oleh karenanya, kini kedua tangannya dengan telaten menyiapkan botol dan susu dalam kemasan. Namun ketika Julian hendak mengangkat termos, Jenderal semakin menangis dan banyak bergerak. Takut jika air ini akan melukai kulit lembut putranya, ia kemudian memanggil Marsha.

"Sha, Sha... Boleh pegang Jenderal sebentar? Biar aku yang buatin susu." Tentu dengan nada sehalus kapas.

Marsha kemudian melenguh panjang. Bangun dengan mata setengah terbuka. Menghala napas lelah dan mengambil Jenderal dalam gendong secara terpaksa.

"Kenapa sih selalu bangun jam segini," gerutu Marsha sambil menggendong dan mengayunkan Jenderal ke kanan dan ke kiri.

"Namanya juga bayi, Sha."

Setelah susu siap, Jenderal kembali digendong Julian. "Aku ngantuk, Lian," ujar Marsha seraya menguap.

Julian mengangguk dengan senyuman. "Enggak papa, kamu tidur dulu aja. Biar Jenderal sama aku."

Untungnya, Julian selalu menuruti apa yang Marsha inginkan. Gadis itu segera merebahkan kembali dirinya diatas kasur. Sementara Julian menggendongnya sampai tengah malam. Lelaki itu rela menahan kantuk sampai Jenderal kembali terlelap.

Tak terasa ketika bayi gemuknya tak lagi bersuara, Julian dengan perlahan merebahkannya diatas kasur. Karena kantuk sudah tak lagi bisa ia bendung, di sisa jam menuju pagi Julian baru ikut tertidur.

****

Pagi harinya, Julian terbangun karena alarm yang berbunyi nyaring. Dia melirik ke arah samping, anak dan istrinya masih tertidur pulas. Lantas tanpa membangunkan mereka, Julian bergegas mandi sebelum pergi bekerja.

Beberapa menit berlalu, sampai Julian selesai mandi Marsha tak kunjung bangun. Bahkan ketika melangkah ke dapur, meja makan kosong tanpa ada secangkir kopi atau sarapan yang biasanya disajikan seorang istri.

Julian termenung. Dia berada dalam posisi yang tidak mengenakan sama sekali. Kesal namun tak bisa menyalahkan Marsha karena mentalnya memang tidak pernah benar-benar stabil.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang