73#Kegagalan

710 39 21
                                        

VOTE GAK BIKIN KAMU RUGI!😇🙏🏻

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Ini adalah hari yang menegangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ini adalah hari yang menegangkan. Setelah mereka berdiskusi kemarin, hari ini tepatnya sore di hari minggu yang cukup mendung, para ketua Xavior gang terdahulu mengadakan pertemuan dengan ketua terdahulu The Zurrel. Mereka makan di sebuah restoran tertutup, sementara para anggota termasuk Julian menunggu hingga malam di markas.

Ketegangan mulai terasa setelah lebih dari satu jam mereka belum juga pulang. Seisi markas diisi penuh oleh hening. Mereka tak berani bersuara sebab Julian pun diam. Ia duduk dengan kedua kedua siku bertumpu di lutut di atas sofa kebesarannya.

Lalu tak lama, bunyi deru motor bersahut-sahutan datang dari arah parkiran. Mereka spontan menoleh ke arah pintu. Tepat ketika kenop dibuka dan menampilkan wajah-wajah datar para ketuanya.

"Bang!"

"Gimana, bang?"

Para anggota bertanya dengan tidak sabar. Sementara Gama menggeser tempat duduk di sana. "Duduk dulu, bang."

Mereka duduk. Memandang satu persatu wajah penuh harapan para anggotanya. Lalu helaan napas lelah keluar dari mulut Xavier. "Gagal."

Satu kata itu berhasil membuat mereka beringsut lemas. Sebagian mengusap wajahnya frustasi dan menonjok telapak tangannya sendiri.

"Julian benar. Mereka sudah lebih dulu dimanipulasi oleh Adelard dan juga Allucard," simpul Abraham.

Bugh

Julian menonjok dinding seolah itu adalah Allucard. Lelaki ini lagi. Dia memanipulasi semua orang agar dirinya tak memiliki akses apapun untuk mencari tahu. Napas Julian terengah. Kepalan tangannya kini lebam dan terdapat bercak darah.

Sementara yang lain termasuk para ketua terdahulu mereka terkesiap. Mereka tahu Julian orang yang seperti apa. Dia mungkin suka melawak dan terlihat tenang, tetapi kemarahan orang seperti itu justru lebih besar. Bahkan Abraham yang hendak berdiri mendekatinya pun di tahan oleh tangan Xavier.

"Sa-sabar, Jultot," cicit Arsenal terbata.

"Kalau kayak gini, kita makin curiga kalau itu bisa jadi anaknya Allucard," ujar Gama dengan nada serius.

Abrisam mengangguk mengiyakan. "Kalau dilihat dari story nya sama Marsha, dia yang paling mungkin dikatakan sebagai pelaku. Bisa jadi pria dewasa yang bawa Marsha itu cuma buat kita terkecoh."

"Apa perlu kita buat jebakan lagi untuk mereka?" tanya Gentala, tegas namun tetap penuh harap.

Xavier menggeleng lemah. "Cara kita diskusi sama ketua terdahulu mereka adalah cara terakhir agar mereka mau ngasih kebenaran itu secara damai. Tanpa perlu peperangan, tanpa perlu sembunyi-sembunyi dan kita kehilangan nyawa lagi."

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang