27#Acara Tahunan Pandawa

4.2K 212 48
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Acara tahunan Pandawa akhirnya tiba

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Acara tahunan Pandawa akhirnya tiba.  Sekolah megah berlantai empat itu kini dihiasi tenda dan panggung di tengah lapangan. Semua orang sibuk. Para gadis memakai pita dan sebagian lagi memakai gaun sesuai dengan pentas mereka.

Setiap siswa membawa bunga. Hal rutin dilakukan setiap tahunnya dan akan diberikan pada seseorang yang spesial. Marsha sibuk mondar-mandir mengatur acara dengan almamater yang selalu melekat di tubuh. Sekarang ia berjalan ke ruangan belakang panggung untuk menyapa Julian.

Sebab setelah pembukaan dari kepala sekolah, lelaki itu akan tampil memainkan drama. Lalu dilanjutkan dengan dance dan masih banyak lagi.

"Julian."

"Iya, Marshayang?"

Sapaan datar Marsha dihadiahi dengan senyum lebar yang mengembang dari Julian. Lelaki itu bahkan berdiri menyambutnya. Dengan kostum pangeran berwarna putih dan rambut tertata rapi.

Tampan sekali.

"Habis ini lo tampil sama Cloui," ujar Marsha melirik Cloui sekilas yang duduk disamping Julian. Tetapi gadis berambut pendek itu seperti acuh menanggapi Marsha.

Julian mengangguk. "Lo jangan capek-capek ya, Sha."

"Udah tugas gue sebagai OSIS."

Julian mengerti. Namun keringat yang mengucur di pelipis gadis itu membuatnya tak tega. Ia lantas memberi tisu dan ...sebuket bunga.

"Buat gue lagi?"

"Gue harus kasih ke siapa lagi, Sha? Dari tahun kemarin sampai sekarang, orang spesial di Pandawa menurut gue itu lo."

Pipi Marsha bersemu. Ia menerima bunga mawar itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Jika ruang ganti ini ramai, sudah dapat dipastikan mereka akan jadi bahan ledekan yang lainnya.

sekarang Cloui benar-benar menjadi nyamuk. Gadis itu menghembuskan napas kasar.

"Thank, you, Yan."

"Of course. Kalau lo butuh sesuatu, lo bisa panggil gue kapanpun lo mau. Lian bakal lari buat nolong Marsha," ujar Julian sedikit salah tingkah menatapi bola mata indah milik Marsha.

Siapa yang tidak jatuh cinta dengan lelaki manis di depannya ini. Marsha menggulum senyum. Dicintai oleh Julian adalah yang paling membahagiakan di Pandawa. Padahal mereka bukan siapa-siapa. Ralat, Marsha yang belum menerimanya.

Marsha salah, padahal Julian yang lebih salah tingkah. Sungguh, manik mata Marsha begitu bulat dan jernih. Siapa saja yang melihat pasti akan terpikat.

"Lo ganteng hari ini, Julian."

Apa? Marsha bilang apa?"

Mulut Julian refleks terbuka. Pandangan mata lelaki itu tak tentu arah. "Lo serius?" tanya nya lagi-lagi salah tingkah.

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang