60#Tentang Merelakan

1.3K 62 6
                                        

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Malam harinya, ketika hujan mulai reda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam harinya, ketika hujan mulai reda. Keadilan menguap hingga si rambut merah pelaku dari penembakan Rainer hastanta berakhir di penjara. Sebetulnya Ansel tak perlu mengeluarkan cukup tenaga agar rasa sakitnya terbalas, namun ia tetap melakukannya.

Di atas tanah yang basah, Ansel berdiri di depan markas The Zurrel yang gelap dan dihiasi pepohonan yang rimbun. Tatapan matanya yang kosong namun tetap tajam seolah mengartikan kesedihannya sekarang.

Dia mungkin telah gila karena tak berpikir dua kali untuk membawa korek serta bensin di kedua tangannya. Kebetulan markas The Zurrel tampak sepi dari luar, kemungkinan para anggota dan si keparat Adelard sedang mengadakan rapat setelah salah satu anggotnya ditangkap.

Tanpa pikir panjang, Ansel mengitari markas itu dari belakang, menyiram bensin dan memantik api. Kobaran si jago merah itu melahap habis bagian belakang markas dalam satu tarikan napas. Lanjut di bagian depan, lalu tak lama beberapa anggota menyadari adanya bau gosong yang menyebar.

"KEBAKARAN!! WOII KEBAKARAN!" Mereka kemudian berteriak kesetanan melihat api yang seolah berdiri menatap mereka berani.

"BOS ADE, KEBAKARAN BOS!!"

"PANGGIL PEMADAM KEBAKARAN SEKARANG!" Adelard memekik keras.

Di tengah kekalutan itu, Ansel berhasil melarikan diri. Dia tahu tak lama kemudian mungkin api akan padam dan hanya menghanguskan beberapa bagian. Tapi paling tidak, mereka bisa merasakan ketakutan dan kepanikan yang menerjang persis seperti yang ia rasakan.

Paling tidak mereka sadar, bahwa hujan yang turun seakan tak mampu menyejukkan hati Ansel yang terbakar setelah ditinggal Rainer.

Ansel pergi dengan sisa air mata yang menetes di sepanjang jalannya. "Rainer, mereka harus mendapat balasan atas apa yang mereka lakuin sama lo ..."

"Sekalipun gue dipenjara nantinya, setidaknya gue dalam keadaan tenang."

****

Julian pulang dari pemakaman dengan raga yang gagah namun jiwa yang lelah. Ia tak berkata apapun pada keluarganya termasuk pada Marsha selain berjalan menuju kamar mandi. Membiarkan shower membahasi tubuhnya dari atas kepala sampai ujung kaki.

Flashback On

"Bilang aja, Jul, siapa yang bakal lo kirim. Kita semua siap," ucapnya lantang.

"Rainer."

"Hah?!"

"Gue mau Rainer yang turun buat introgasi pegawai itu sekali lagi."

Gama menarik senyum dibibirnya. "Udah gue duga lo pasti bakal percaya sama prajurit itu buat ngurusin ginian."

"Rainer udah sering dapat tugas kayak gini dari gue. Dia udah biasa nyamar, mau itu jadi pelajar, polisi bahkan sampai jadi banci."

LIMERENCECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang