48#Cinta dan Air mata

1.5K 83 12
                                        

Part lumayan panjang, soalnya author lagi ngejar target🤗

Pembaca yang baik adalah mereka
yang tau caranya menghargai karya orang lain.

Happy reading<3

Emosi memang seringkali membuat kegaduhan, tak banyak juga yang akhirnya menimbulkan perpecahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Emosi memang seringkali membuat kegaduhan, tak banyak juga yang akhirnya menimbulkan perpecahan. Sejak dua tahun yang lalu, Julian menganggap Xavior gang sebagai rumah yang paling damai. Tapi kini, rumah itu telah ia tinggalkan.

Julian tidak tahu apakah yang dia rasakan saat ini adalah penyesalan atau hanya kesedihan sesaat. Yang jelas, saat melihat album foto, poster berukuran sedang dan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan Xavior gang di atas meja, hatinya mendadak sesak. Ia jadi teringin memeluk jaket kebesaran Xavior dengan logo tengkorak membentuk huruf X di bagian belakang.

Hembusan napas panjang keluar dari mulut Julian. Posisinya kini tengah duduk di meja belajar, hanya untuk melihat-lihat beberapa potret kenangan. Bagaimana dengan Gama yang mengurus semua anggotanya? Gentala yang begitu marah dengannya, Rainer yang senang mengajak Julian bercanda? Abrisam yang kerap membuatkannya mie instan, Rainer yang tak pernah absen memberikannya informasi sebagai mata-mata, dan Madhava si penulis hebat itu ...

Julian menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Meresapi rasa sakit yang menusuk benaknya semakin dalam. Disaat yang bersaman, ketukan pintu terdengar.

"Juli, buka pintunya, ini Mommy."

Rupanya itu Mom Jess. Lantas dengan segera Julian membukakkan pintu dan menyambut Mommynya dengan senyuman setipis benang. "Kenapa, Mom?"

"Kamu mau makan apa nanti malam, Jul? Biar Mommy sekalian belanja bulanan dipasar." Seperti biasa, Mommy Jessica dengan setelan simple, rambut dikuncir satu dan wajah segar begitu excited menyambut si bontot Julian.

Julian menggeleng lemah. "Nggak usah, Mom. Juli mau keluar dulu nyari angin. Maaf ya Juli gabisa anterin Moms ke pasar hari ini." Tanpa menunggu Mommynya berkata, Julian meraih jaket dan kunci motornya. Mencium tangan Jessica dan melangkah keluar rumah. "Pamit Moms."

Mom Jessica yang hanya bisa termangu melihat perubahan sikap putra bungsunya kini memicingkan mata. "Angin kok dicari? Ada-ada aja ..."

****

"Punya anak bujang semuanya pada sok sibuk. Emang harusnya ada anak gadis satu nih biar nggak terlalu sepi dirumah."

Gerutuan yang sudah tak asing itu berasal dari Mommy Jessica yang baru saja keluar dari rumah menuju halaman teras. Disana, sudah ada Pak Mahmud, tukang kebun yang baru saja membabat habis rumput di sekitaran rumah besar The J Family. Lelaki separuh baya itu menyambut Mom Jess dengan kekehan.

"Kan nanti juga bakal dapet anak gadis dari rumah ini, Bu," katanya.

Mom Jess berhenti melangkah. "Siapa, Pak? Saya lagi? Bisa-bisa cowok lagi yang saya lahirin, terus namanya siapa? Udah nggak ada stok nama. Masa iya mau saya namain Junaedi."

LIMERENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang