Vote dulu sebelum baca✌
###
"Bibi, mengapa kita kemari? Bagaimana dengan ayah? Tidak bisakah bibi menghubungi ayah?" Ashiel bertanya dengan suara bergetar. Kepala Ashiel sudah dipenuhi kemungkinan yang buruk.
Xera lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan keponakannya. Ia memilih untuk membuat dirinya sejajar dengan Ashiel. Kedua tangan Xera diletakkan di pundak Ashiel. Kedua mata violet mereka saling bertatapan. Ashiel dapat melihat getaran di mata bibinya. "Ashiel, dengar-" Xera menjeda perkataannya. Ia menengadahkan kepalanya menghalau air mata yang akan turun. "Sebaiknya kita bertemu dengan Kaisar terlebih dahulu. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya setelah itu."
"Bibi, ayah akan baik-baik saja bukan?" Ashiel sangat berharap bahwa Xera akan mengangguk mengiyakan perkataannya. Namun melihat Xera yang terdiam, cairan bening dari mata Ashiel perlahan turun membasahi pipinya.
'Bibi, ayah pergi karena permintaanku. Andai saja- andai saja aku tidak meminta ayah untuk memeriksa tambang itu, ayah- mungkin saja ayah- akan tetap ada disini, bibi-" Xera segera memeluk keponakan kecilnya yang kini menangis, ingin sekali ia mengatakan omong kosong bahwa kembarannya baik-baik saja namun setelah berulang kali menghubungi Xavier lewat sihirnya, Xera tidak mendapatkan tanggapan apapun.
Ashiel tidak salah, Xavier pergi karena keinginannya sendiri. Selain itu, keponakannya sudah bersusah payah mencari tambang batu bata karena bangsawan lain tidak ingin menyumbangkan batu mana milik mereka.
Usai menenangkan Ashiel, Xera mengusap air mata di pipi tembam keponakannya. "Dengar Ashiel, apapun yang terjadi dengan ayahmu, kau tidak boleh menyalahkan dirimu. Ini semua bukan salahmu."
Xera memegang tangan Ashiel kemudian berjalan bersama memasuki ruangan dimana Kaisar dan bangsawan lain berada.
"Silahkan masuk lady Xera, tuan muda Ashiel. Yang mulia sudah menunggu." Ucap salah satu kesatria kekaisaran yang berjaga di depan pintu.
"Tuan muda Ashiel, akhirnya anda tiba."
"Tuan muda, tolong segera perbaiki artefak pelindung kekaisaran."
"Karena gempa bumi yang terjadi, batu mana yang kami miliki terkubur di mansion."
"Tuan muda, anda bisa melakukannya bukan? Ini semua demi kekaisaran!"
Saat para bangsawan itu melihat Ashiel, semuanya segera mengatakan berbagai omong kosong yang membuat Ashiel muak. Tidak bisakah mereka melihat mata sembab Ashiel? Apa meteka buta?
Ashiel merasakan amarah dalam dirinya mendengar perkataan mereka.
"DIAM! Tutup mulut kalian! Tuan muda Ailos, silahkan duduk." Richard, Kaisar itu menghentikan keributan yang terjadi.
Ashiel melupakan tatakrama yang sudah ia pelajari dari Rien. Ia duduk di kursinya tanpa menanggapi perkataan Kaisar. Xera yang melihat itu tersenyum canggung, ia memberi salam pada Richard dan mewakili Ashiel untuk meminta maaf.
Richard menatap para bangsawan itu kemudian tatapannya terhenti pada sosok kecil berambut biru gelap disamping Xera. Melihat dari matanya, Richard menebak bahwa Ashiel baru saja menangis.
"Seperti yang kita ketahui, kekaisaran kita baru saja ditimpa hal buruk. Setelah retaknya artefak pelindung, monster menakutkan dari luar kekaisaran mulai menyerang kekaisaran. Selain itu, kemunculan mereka juga menyebabkan gempa bumi yang cukup merusak."
"Belum lama ini aku sudah memberitahu kalian bahwa memperbaiki dan mengaktifkan ulang artefak itu tidaklah sulit karena yang kita butuhkan yaitu seribu batu mana."
Salah satu bangsawan mengangkat tangannya tanda intrupsi. "Yang mulia, karena gempa yang terjadi, harta beberapa bangsawan terkubur dalam tanah. Itu semua termasuk batu mana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Adik Protagonis Pria [END]
Fantasía#Story Transmigrasi Saat ia membuka mata, ia mendapati dirinya dalam tubuh anak kecil yang dikurung disebuah sel sempit. Sampai suatu hari, beberapa kesatria datang dan membawanya keluar dari tempat itu. ### ❗️UDAH END, TAPI JANGAN LUPA APRESIASI...
![Adik Protagonis Pria [END]](https://img.wattpad.com/cover/333555995-64-k521532.jpg)