11 Pantai, Malam dan Mercusuar

9.5K 532 67
                                        


Rony dan Salma berjalan pelan di jalan setapak tepi pantai, mereka sama-sama memasukkan tangannya ke kantung celana. Keduanya mengarah ke Utara, dalam gelap yang temaram, ada bulan yang tidak penuh baru muncul dari arah Timur.

Dalam perjalanan itu nampak mercusuar di sela pepohonan. Di puncaknya menyala terang lampu suar yang menyorot jauh untuk menjadi pedoman kapal-kapal di tengah laut. Memberi tahu keberadaan daratan, atau memberi peringatan adanya pantai yang dangkal atau berkarang. Bangunan itu menjulang jauh lebih tinggi dari bangunan sekitarnya. Tampak pongah.

Lighthouse, Mercusuar. Mercu itu bagian paling atas, puncak, bisa juga berarti menara. Menara yang selalu tinggi. Suar itu nyala api, flare. Mercusuar memiliki nyala terang di puncak yang memancarkan cahaya menjangkau kejauhan. Tapi tidak menerangi sekitarnya.

Salma teringat salah satu proyek mercusuar Sukarno, Monas. Tujuannya untuk dilihat oleh bangsa lain, Sukarno ingin Indonesia dilihat sebagai bangsa yang besar. Menjadi penerang sesama negara-negara yang baru merdeka atau masih memperjuangkan kemerdekaannya. Tidak hanya Monas, ada Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, Gedung pertokoan Sarinah, Gelora Bung Karno dan Gedung MPR DPR. Namun proyek ambisius itu menghabiskan anggaran yang besar dan justru menyebabkan krisis ekonomi dalam negeri.

Rony mengajak Salma duduk ke sebuah dek kayu yang menjorok ke laut, di atas pasangan tumpukan batu yang sepertinya dibuat sebagai pemecah gelombang, atau pencegah abrasi, entahlah. Salma duduk menghadap ke Utara, memandang mercusuar itu. Dari dek kayu itu Mercusuar nampak lebih penuh, tak terhalang pepohonan. Rony duduk di sebelahnya.

Hening.

Belum ada kata yang terucap diantara keduanya. Keduanya masih menikmati desir ombak dan angin laut yang sedikit kencang. Lagi-lagi mereka bersyukur malam ini tidak hujan.

"Ron..."

"Hm..."

"Gue baru tahu kalau disini ada mercusuarnya,"

"Lo belum kepo disini ada apa gitu?"

"Gue kan kepo sama Jalan Raya Posnya. Tapi tadi malah lewat jalan Tol,"

"Hahahaha... kenapa si kepo sama Jalan Raya Pos?"

"Ga tau, kita udah lewat sebagian, jadi pengen ngelarin aja, ambis yak?"

"Iya, banget. Ya kalau emang jodoh buat lewat ya kita bakal lewat si, entah kapan," ucap Rony, Salma mendungus.

"Jalan Raya Pos ini proyek ambisius, waktu Belanda di bawah Kekaisaran Perancis, Napoleon Bonaparte. Proyek melipat jarak dan waktu,"

"Eh?"

"Sebelumnya kan kalau mau jalan butuh waktu berhari-hari, tapi setelah ada jalan ini jadi lebih cepet. Termasuk untuk urusan Pos. Waktu itu motifnya lebih ke ekonomi si, biar lancar eksploitasi dan export-nya."

"Effortnya juga gila si,"

"Tapi itu rencana yang visioner, terlepas dari pengorbanan yang luar biasa juga si. Kek Lo, visioner, gue seneng denger rencana anak-anak tadi,"

Rony tersenyum, lalu keduanya terdiam lagi.

"Ron,"

"Ehm,"

"Lo kok tadi nggak cerita rencana Lo?"

"He... cuma Lo yang sadar kayaknya ya? Iya gue belum cerita, gue menempatkan diri jadi yang menampung cerita,"

"Sok keren Lo. Gue boleh tau rencana Lo?"

"Ehm... sebenernya gue sama kek Danil, tapi kebalikannya. Gue merasa bisa semuanya malah bingung gue mau ngapain," terang Rony. Kadang bisa banyak hal juga bikin galau menentukan.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang