42 Beyong: Anak Ikan

11.9K 632 123
                                        

"Jebul akeh beyong'e yo, Mbak," ungkap Mbak Sri dalam Bahasa Jawa.

"Iyo mbak..." jawab Salma.

Mereka sedang di dekat kolam ikan di halaman belakang Rumah Bujang.

"Eh?" Rony bingung dengan percakapan Salma dan Mbak Sri. Iya, Mbak Sri memang dari Jawa Tengah bagian tengah. Dari namanya saja sudah sangat Jawa. Rony menghentikan aktivitasnya mengambil ikan di kolam, memandang Salma bertanya artinya.

"Itu, banyak anak ikannya," jawab Salma.

"Iya, Mas. Beyong tu nama anak ikan kalau di Bahasa Jawa,"

"Oh, kalau Bahasa Inggris gue tau, fry," tukas Rony.

"Bukan fingerling yak?" tanya Salma, memastikan.

"Itu kalau udah gedean dikit,"

"Ini masih bayik yak..." ucap Salma diimut-imutkan.

Rony mengangguk melanjutkan mengambil ikan.

Sesuai rencana, Rony akan mengundang teman-temannya berkumpul. Dia mengikhlaskan ikan-ikannya untuk dibakar. Padahal nggak tega, tapi Salma sangat antusias. Mbak Sri yang bertugas membersihkan ikan-ikan itu. Rony mengambil sekitar 20 ekor ikan Nila ukuran sedang. Yang besar biar beranak pinak katanya.

"Udah ya, udah banyak?" tanya Rony.

"Iyaa....ga tega kan Lo,"

Rony tersenyum. Dia membasuh tangannya yang bau ikan. Salma mengambilkan lap untuk Rony, menyerahkan lap itu ke lelakinya.

"Mandi sekalian, Ron!" perintah Salma.

Rony tidak menjawab, dia mendekat ke perempuannya, lalu berbisik, "Mandiin, Sa,"

"Dih, ogah!" teriak Salma sampai membuat mbak Sri yang sedang membersihkan ikan menoleh.

"Sssttt!" bungkam Rony.

"Gue mau ke warung sayur, bye!"

Salma pergi begitu saja dari hadapan lelakinya yang sedang menggaruk tengkuknya.

_________

Siang menjelang sore Rumah Bujang sudah dipenuhi para undangan untuk berkumpul baik teman-teman studio Rony maupun teman kuliah Salma. Salma sudah menyiapkan ikannya. Dia memarinasinya dengan garam dan air jeruk nipis. Si ikan sudah di kulkas menunggu di bakar. Salma juga sudah menyiapkan bumbu oles dan bahan untuk sambal, tinggal di ulek. Nanti nguleknya biar segar.

Tamu yang datang terbelah menjadi dua urusan. Tuan rumah menguasai bagian teras belakang, karena pasukannya lebih banyak. Sedangkan Nyonya rumah menguasai meja dapur, bertiga bersama Ditho dan Syarla. Masing-masing menghadap sebuah laptop. Ya, mereka menyiapkan seminar untuk dasar tesis mereka yang jadwalnya dua minggu lagi.

Di teras belakang suasananya cukup dingin. Sepertinya obrolan mereka cukup berat karena apa yang disampaikan Rony sepertinya cukup mengagetkan mereka. Selama ini polanya Rony di depan memimpin dan teman-temannya adalah anak ikan yang mengikutinya.

Sore itu Rony memberi tahu kalau ia memutuskan untuk tidak banyak bekerja di studionya lagi. Dia akan tetap disana, tapi hanya sebatas mengawasi dan terlibat dalam hal-hal yang krusial. Tapi untuk bagian program dan lainnya dia menyerahkan kepada teman-temannya. Sebenarnya, sebelumnya Rony sudah pernah sounding pada teman-temannya mengenai hal itu, tapi baru hari ini benar-benar diputuskan. Mereka memiliki tabungan modal untuk 3 bulan dalam proses transisi tersebut.

Rony cukup kelabakan karena papanya juga memberi tanggung jawab di perusahaannya. Meskipun juga tidak full time di perusahaan itu tapi hal itu membuatnya kehabisan waktu dan tenaga. Papahnya memintanya mengurusi bagian research and development, memberi approval desain produk dan media pemasaran. Menurut David, Rony memiliki kepekaan analisa pasar juga mengenai desain yang sesuai dengan pasarnya itu.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang