_____________________________________________________
Jogja, Desember 2023
Sa,
Gue mau bahas soal kejelasan kelanjutan hubungan kita. Hal ini muter-muter terus di otak gue. Gue mikirin ini berhari-hari, bukan hanya dengan otak tapi juga dengan hati, hati-hati sekali.
Pertanyaan sekaligus pernyataan Lo mengenai tujuan menikah bikin gemes pikiran gue. Rasanya kek mendidih otak gue mikirinnya. Gimana enggak, semua alasan yang umum dijawab orang Lo mentahkan. Alasan retoris, gue punya sekebon yang bisa gue omongin. Kadang terbersit, apa salahnya dengan alasan tersebut? Sialnya, gue setuju mementahkan itu semua.
Bikin gue mikir ratusan kali mencari dan menggali apa sebenarnya yang orang tuju dari menikah.
Sa... Then, here's what i say...
Semuanya tentu saja berawal dari yang namanya cinta. Perasaan ajaib yang mendorong gue mau melakukan banyak hal. Dari yang menyenangkan sampai menyakitkan. I can't define myself why, tapi sebut saja itu karena cinta. Gue jatuh cinta sama Lo.
Hal ajaib, sesederhana liat Lo doang bikin seneng. Tapi juga sesederhana Lo nggak keliatan aja bikin kangen. Sesederhana Lo kasih perhatian lebih ke cowok lain bikin sakit. Dan pas Lo bilang hubungan kita harus berakhir, gue heran gue bisa semenderita itu. Bahkan setelah merasa tersakiti karena itu, gue tetep bahagia pas bisa balik sama Lo. Apalagi pas gue ngerasa salah sama Lo, semenyesal itu rasanya.
Seajaib itu yang namanya cinta. Dan kita udah melalui hal-hal ajaib itu bersama. Itu bikin gue pengen selalu sama Lo. Kaya gue bilang dulu, gue kecanduan lagi. Kecanduan dopamine, gara-gara Lo, Sa.
Balik lagi soalan menikah. Ini hal realistis yang bisa gue pikirin.
Gue butuh partner dalam hidup, teman hidup. Selama ini kita nyaman dalam lindungan tempurung keluarga yang support kita sampai saat ini. Ngurusin pas kita sakit, back up kita pas bermasalah. Atau sekedar nemenin buat sarapan pagi sama-sama. But we both know, kalau ini ga akan selamanya.
Menurut gue, kita bisa memiliki partner untuk membangun tempurung nyaman kita sendiri.
Gue butuh partner dalam menjalani sisa perjalanan hidup gue, dan gue pengen itu Lo.
Partner yang bisa berbagi tugas. Sekedar, Lo nyoba resep, gue yang cicipin. Lo yang masak, gue yang cuci piring. Gue bikin lagu, Lo yang nyanyiin. Sekedar teman ngomongin tetangga yang julid tanpa malu atau berpura. Partner buat bareng-bareng ngomentarin makanan yang kita beli di pinggir jalan yang keasinan. Sekedar Partner saat Gue sakit Lo yang urus, atau saat Lo sedih, gue siap meluk. Even as partner in crime.
Kita saling hadir, saling support. Saling berbagi melakukan hal absurd bersama. Seperti mempertanyakan bintang jatuh lelah apa enggak, karena banyak harapan manusia yang membebaninya. Ini gue terinspirasi dari lagu yang baru gue denger di spotify. Ah, hal sepele seperti ini aja pengen gue bagi sama Lo, buat sama-sama merasakan keabsurdan yang masuk akal.
Meskipun gue juga tahu, menikah bukan hal yang sekedar dan sepele. Sa....
Banyak mimpi besar yang pengen gue raih bareng sama, Lo. Membangun ruang perjumpaan musik, atau bikin duet Ronny Salma, Lo main gitar, gue yang ngebass?
Ah, atau jalan bareng menyelesaikan Jalan Raya Pos, atau merealisasikan perjalanan Asia tenggara? Bahkan kalau mungkin, gue pengen bareng Lo menelusuri jalur rempah, sampai jalur sutra. Atau kita bikin jalur sendiri, jalur Rony-Salma? Rencana-renca ajaib yang bisa kita susun bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)