Salma sedang membuat minuman hangat pagi esoknya. Melakukan kebiasaan lamanya di rumah itu. Tadi pagi dia sudah membuang sampah dari dapur ke tempat sampah di depan rumah itu, karena pukul 08.00 tukang sampah keliling akan mengambilnya. Dia juga membuka gordyn dan beberapa pintu juga jendela di rumah itu, mempersilahkan udara luar masuk.
Salma sudah mandi sebelum subuh tadi. Tapi tidur lagi karena kelelahan. Rambutnya dicepol di belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang terurai. Dia hanya mengenakan kemeja berwarna biru dongker milik Rony yang kebesaran di tubuhnya. Saat itu ia baru saja menuang air panas di gelasnya yang sudah terisi teh celup dan gula. Perempuan itu menoleh ketika mendengar suara orang berjalan, lelakinya. Rony berjalan pelan menghampiri perempuannya.
"Kok ga bangunin gue?" keluh Rony.
"Nyari perkara, Lo udah bikin gue keramas 4x dalam 24 jam!"
Rony hanya menyeringai.
"Kopi?"
"Enggak, gue minta teh Lo aja ya, perut gue agak ga enak nih,"
"Telat makan kemarin ya?" tanya Salma.
Rony mengangguk, sambil duduk di kursi di dekat Salma.
"Masih sakit?" tanya Rony meraih pinggul perempuannya.
Salma mengangguk, Rony iba mengetahuinya.
"Tapi ga papa, aman," ujar Salma yang senang diperhatikan lelakinya.
"Mau lagi?"
"Anjing!" umpat Salma merubah segera persepsi tentang lelakinya. Sambil hendak memukul lelakinya dengan sendok yang sedang dipakai untuk mengaduk tehnya.
"Boleh, lho..."
"Tai, Ron!"
Rony malah memeluk perempuannya semakin erat, mencium punggung istrinya berkali-kali, penuh sayang.
"Roooon....!" pekik Salma, namun manja.
'Ceklek...'
Pintu rumah dibuka, Mbak Sri masuk tanpa mengetuk pintu. Dia kikuk sendiri melihat pemandangan di dapur rumah itu. Salma langsung melepas pelukan lelakinya dan naik ke lantai 2 membawa tehnya. Malu. Rony terdiam di kursinya, menghela nafas panjang dan mengusap rambutnya kasar, kagok.
"Maaf, Mas. Kebiasaan. Lupa kalau kalian sudah tinggal disini," ucap Mbak Sri merasa bersalah.
"Ehm... besok lagi datangnya kalau kami minta aja ya, Mbak," pinta Rony.
"Eh, iya, Mas. Hari ini ada yang diperlukan nggak?" tanyanya.
"Nanti aja ya," ucap Rony sambil beranjak dari duduknya, tidak bisa menyembunyikan kedongkolannya.
"Ya udah, saya pamit dulu..." ucap Mbak Sri, wajahnya tidak bisa menyembunyikan batinnya, dasar penganten baru!
Rony menyusul Salma ke lantai atas, menuju kamarnya. Saat masuk kamar dilihatnya Salma sudah berganti pakaian. Rony menunjukkan kekecewaannya. Melemparkan tubuhnya ke ranjang, sekenanya. Salma melihatnya dengan menyeringai.
"Nice try, Ron!" Salma mencibir.
"Huft! Lo mau ngapain?" tanya Rony melihat Salma yang lebih rapi.
"Mbak Sri mana?" pertanyaan dibalas pertanyaan, seperti biasanya.
"Udah gue usir," jawab Rony ketus.
"Yah, kita belum ada sarapan lho, belum belanja. Ish, Rony!!"
"Pesen aja... Lo mau apa, gue pesenin,"
"Ga mau keluar aja sekalian?"
"Sa...." Rony merajuk, kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)