Saat sampai di perpustakaan Rony mendapati Salma terbaring di salah satu sofa. Syarla duduk, kepala Salma bersandar di pangkuannya. Ditho ada di dekat mereka. Ada beberapa petugas perpustakaan di sana juga. Rony berlari mendekat. Sepanjang jalan pikirannya tidak tenang ingin segera menemui perempuannya.
"Sa...." panggilnya lirih, menahan emosinya. Dia langsung meraih tangan perempuannya, mendekatkan ke pipinya.
"Ron..." panggil Salma lemah.
Rony tiba-tiba tergetar. Sudah berhari-hari rasanya Salma tidak pernah menyebut namanya. Salma nampak pucat.
"Kita ke dokter ya," ujar Rony.
"Enggak, Ron. Istirahat bentar aja,"
"Gimana kejadiannya?" tanya Rony, dia memandang Syarla dan Ditho, bergantian.
"Tadi pagi dia bimbingan, bareng gue di kampus," ungkap Syarla memulai cerita, "Ga bareng si, ketemu dosennya yang bareng. Dia bilang naik turun tangga di lantai 4,"
Ah, Salma pasti sedang mengulur waktu karena gundahnya dengan naik turun tangga, bukan naik elevator. Seperti dulu saat harus mengunjungi Rony di rumah sakit, dia memilih menaiki tangga. Pasti Salma sangat stress.
"Kayaknya kecapekan, dia pucet banget tadi pas ketemu gue disini. Terus pas baru masuk di situ dia ambruk," Ditho yang bersuara.
"Dia tidur malam terus," ujar Rony, mencium tangan perempuannya. Hal yang seminggu terakhir tidak pernah dilakukannya. Tidak sampai hati.
"Gatau udah makan apa belum," ujar Syarla.
Ah, tadi pagi mereka tidak sarapan roti panggang dengan olesan butter bersama, batin Rony.
"Sa... kita pulang kamu kuat nggak? Biar istirahat di rumah aja?" tawar Rony.
Salma mengangguk. Rony meminta tolong Ditho mengambil mobilnya, menyerahkan kunci mobil. Rony mempersiapkan perempuannya, dibantu Syarla. Salma duduk di sofa sekarang, kepalanya begitu pening. Wajahnya pucat. Rony menyuruh perempuannya minum dulu, dia bukakan tutup tumbler ungu milik Salma. Salma menurut.
Ditho sudah siap di depan pintu masuk perpustakaan. Rony dan Syarla membantu Salma berjalan. Lemah. Ditho dan Syarla akhirnya ikut mengantar Salma. Ditho yang menyetir, Syarla di sebelahnya. Salma duduk menyandar pada lelakinya di seat belakang. Berkali-kali Rony mencium pelipis perempuannya. Seminggu lamanya mereka tidak bisa sedekat ini. Sayang, rindu, rasa bersalah, bercampur jadi satu.
Sampai di Rumah Bujang, Salma meminta rebahan di sofa bed depan TV. Dia merasa lelah sekali. Tidak kuat kalau harus ke lantai 2. Syarla mengambilkan bantal, setelahnya dia dan Ditho membuat minuman sendiri di dapur, mandiri. Membiarkan sepasang suami istri berdua saja. Rony duduk di karpet. Terus menggenggam tangan Salma, memandang wajahnya yang kuyu. Diciumi terus tangan perempuannya. Air mata sesekali menetes tak tertahan.
"Sa, makan ya? Lo mau gue pesenin apa?" tawar Rony.
Salma menggeleng, "Perut gue rasanya begah."
"Lo telat makan,"
"Enggak, tadi udah makan roti di kantin," jawabnya.
"Sa... Lo marah-marah aja sama gue. Lo pukul gue, Sa. Jangan kek gini," ucap Rony.
"Ron..."
Rony tercekat, "Sayang Kamu, Sa.... tolong jangan kek gini..."
Syarla dan Ditho saling pandang. Saling memberi kode kalau mereka harus segera beranjak dari tempat itu. Keduanya mendekat. Syarla menyerahkan dua gelas teh hangat ke Rony. Rony tersadar ada dua manusia lain di sana. Dia hapus air matanya cepat. Goblok, malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)