Malam itu Salma tidak bisa langsung istirahat. Dia ngobrol dulu dengan mamahnya dan Tante Ima. Banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh tantenya itu mengenai Rony. Mulai dari lulusan mana, kerja apa, sampai soalan sudah punya apa saja. Pertanyaan yang menyebalkan. Mungkin kalau tidak dipotong oleh Santi, sampai nomor sepatu dan nomor celana juga ditanyakan oleh Tate Ima. Malam itu Salma tidur sekamar bersama kedua orang tuanya. Sebelum tidur, Santi dan Salma masih sempat mengobrol, sebuah pillow talk.
"Ca, Kamu udah bahas sama Rony?" tanya Santi pelan, supaya tidak terdengar siapapun.
"Ehm..."
"Mamah nggak masalah, Kamu jangan terbebani. Cuma ini buat jagain kalau besok Rony ditanya-tanya sama Eyang sama Tante Ima, biar bisa mamah bantuin. Mamah kan mesti tau, biar bisa ngepasin sikap mamah gimana,"
"Maksud mamah gimana?"
"Ya, kalau Ronynya mau serius, kan mamah bakal 'bantu' dukung dia di depan Eyang. Kalau dia masih belum yakin atau masih santai, ya mamah 'bantu' cari alasannya, gitu to, Ca,"
"Ya, kami pernah bahas. Tapi Caca belum tau pasti kalau soalan itu, kami belum bahas sejauh itu. Caca nggak mau nuntut Rony, kek yang ngarep banget gitu ogah lah mah, hehehe..."
"Iya sih Ca, tapi Kamu juga jangan gengsi-gengsi banget lah, pikirin Eyang. Papah juga tanya terus,"
"Kaaan, Caca tau si, Mah. Mesti papah yang nanya terus ya,?"
"Kepikiran si papahmu itu, tapi jangan jadi beban. Yang penting Kamu bahagia, mamah lebih bahagia,"
"Iya, Mah. Makasih ya pengertiannya,"
"Kalau Kamu sendiri pengennya gimana?"
"Sebenarnya, Caca kepikiran juga, paling nggak pengen ngerti soalan kejelasan mau dibawa kemana hubungan kami, tapi ya.... gitu deh Mah. Caca ga pengen keliatan ngarep banget,"
"Dasar, gengsi kok tinggi amat. Yaudah, bobok, Ca... besok pasti riweh, hehehe...." ucap Santi.
Salma tidur dengan memeluk mamahnya. Melampiaskan Rindu karena lama tak bertemu.
_________
Salma bangun paling akhir di rumah itu, hari sudah cukup siang. Perempuan itu langsung ke kamar mandi untuk cuci muka. Dilewatinya Mamah dan Tantenya yang sedang bekerjasama masak di dapur. Harum tempe goreng menyeruak disana.
"Perawan kok bangun siang," cletuk tante Ima yang diabaikan Salma.
Seselesainya Salma dari kamar mandi, ia lalu duduk di bangku risban, kursi besar memanjang, yang ada di dapur itu. Mengumpulkan nyawanya. Rasanya lelah. Bukan hanya karena perjalanan panjang yang memang melelahkan, tapi mungkin juga karena emosi yang tidak karuan sehari kemarin. Naik turun perasaannya.
Santi mendekat ke Salma, membawa sepiring pisang goreng dan segelas teh hangat untuk anaknya. Duduk di sebelah anak perempuannya itu. Masak besarnya sudah selesai sepertinya.
"Masih capek, Sa?" tanya Santi.
Salma menyesap teh hangatnya, lalu mengangguk.
"Papah mana, Mah?" tanya Salma.
"Sepedaan sama Rony,"
"Eh, udah bangun dia? Tumben amat,"
"Ye... udah jauh kali mereka. Makanya bangun pagi!" ejek Santi.
"Ho oh, Ca. Jadi cewek tu yang rajin. Bangun pagi, bikinin kopi, kalau lakinya ga betah terus pergi gimana coba?" celetuk tante Ima menyambar obrolan, malah menakut-nakuti.
"Ya, kan gantian, ga harus cewek terus yang begitu," Salma mengutarakan pendapatnya.
"Kalau lakik-nya nyari yang rajin gimana?" cecar Tante Ima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
Fiksi PenggemarCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)