41 Spill the Tea

13.4K 657 173
                                        

R~ : Sa, gue disuruh ke kantor sama papah
R~ : ada review produk baru
R~ : gue balik telat ya
SS : lagi? its friday night, tho
SS : balik jam berapa kira-kira?
R~ : Iya, sorry. malam lah
R~ : Lo makan duluan aja
SS : yaudah, gimana lagi.
R~ : Lo lagi ngapain?
SS : Nunggu Lo pulang....
R~ : ehm...
R~ : gue usahain balik secepatnya
SS : ok

R~ : Sayang Kamu, Sa...

Pesan terakhir Rony tidak dibalas lagi.

________

"Sa..." panggil Rony di depan pintu Rumah Bujang.

Rony tak perlu menunggu lama disana. Sedari terdengar suara mobil masuk ke carport Salma tahu lelakinya pulang. Malam cukup larut. Saat membuka pintu Rony hanya tersenyum tipis. Wajahnya lelah. Rony melihat Salma juga tampak kusut, sekaligus menahan kesal. Rony mencium kening Salma. Kebiasaan baru mereka kalau baru ketemu serumah. Tapi sambutan Salma sedikit jutek.

Sekarang Rony lebih sering dilibatkan dalam urusan bisnis Papahnya. Dikenalkan mengenai urusan apa saja yang mesti diketahui dan dipelajarinya. Sepertinya Papahnya diam-diam menginginkan Rony menggantikannya di perusahaan itu suatu saat nanti. Anak laki-laki yang diharapkan menjadi penerus.

Sebenarnya sedikit bertentangan dengan keinginan Rony, urusan yang berbeda dengan yang digelutinya selama ini. Bisnis keluarganya sendiri di bidang manufaktur dan retail fashion. Pengembangan dari usaha masa mudanya bersama Anang.

Salma sendiri seharian di rumah. Kuliahnya sekarang hanya dua mata kuliah. Seminar Pengkajian Seni dan Manajemen Seni. Matakuliah yang pertama berkaitan dengan persiapan tesis mulai dari penentuan tema, metodologi, landasan teori, rumusan masalah, dll, yang nantinya dipresentasikan di akhir kuliah. Satunya mengenai wawasan dalam pengelolaan seni, mulai dari seni rupa, seni pertunjukan dan film.

Dia hanya kuliah dua hari dalam seminggu. Waktu Salma banyak dihabiskan untuk membaca, baik di rumah maupun di perpustakaan. Dia juga menambah kesibukan dengan belajar mencoba menulis artikel, jurnal, juga paper untuk seminar.

Meski lebih banyak waktu di luar kuliah tapi dia malah tidak pergi kemana-mana. Ya, karena Rony yang semakin sibuk. Entahlah, papahnya jadi lebih sering melibatkannya. Meskipun berkali-kali Rony bilang tidak menghendaki, tapi dia tetap berangkat.

"Udah makan?" tanya Rony. Salma mengangguk.

"Lo?" tanya Salma balik, singkat saja.

"Udah tadi bareng Papah. Makan sama apa?"

"Mie instan,"

"Jangan kebanyakan lah, Lo seneng banget mie instan,"

"Nikmat tauk!"

"Dasar budak micin,"

"Ya kan sendirian di rumah, kalau masak nanggung,"

Rony tidak menanggapi, tidak bisa. Padahal Salma punya opsi pesan antar. Tapi Rony tau perempuannya cuma sedang merajuk karena ia pulang terlambat. 

Salma melengos menuju pantry. Dia tadi sedang membuat teh hangat. Karena suaminya sudah pulang, dia sekalian membuat kopi untuknya. Sedangkan Rony dia menjatuhkan dirinya ke sofabed di depan tv setelah membuka kemeja dan menyampirkannya di sandaran sofa. Tak seperti biasanya. Sofa itu jarang sekali mereka pakai. Mereka lebih suka duduk di meja pantry.

Salma mendekat ke lelakinya. Menyerahkan segelas kopi untuknya. Sedang teh Salma masih di meja pantry. Rony menyesapnya.

"Kenapa, Ron?" tanya Salma setelah mengambil gelas tehnya.

"Ehm... capek aja,"

Tidak mendapat jawaban yang memuaskan Salma duduk di sofa itu juga. Meraih tangan lelakinya. Memijatnya ringan.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang