"Rendy?" tanya Rony pelan.
"READY!!!" teriak Salma penuh semangat.
Libur semester Salma sudah datang. Pernikahan Novia dan Neyl sudah diselenggarakan kemarin. Seperti rencana yang diutarakan Rony ketika di Kebun Raya Bogor, dia ikut Salma mudik ke Jogja. Seperti kebiasaan keduanya, rencana pun melebar. Rony sudah memadatkan jadwal pekerjaannya sehingga bisa free 5 hari. Perjalanan pulang ke Jogja kali ini tidak menggunakan pesawat maupun kereta. Pilihan jatuh ke mobil. Ya, road trip, lagi.
Seperti keinginan Salma, dia ingin menelusuri potongan Jalan Pos yang lain. Karena jalur pos sebenarnya lewat Bogor, Cianjur lalu Bandung, mereka berkompromi untuk langsung ke Bandung lewat jalan Tol.
Selain karena alasan Jalan Pos, Rony dan Salma sekalian ingin menonton sebuah pertunjukkan Band Indie asal Bandung, Mocca. Meskipun band tersebut sudah melanglang buana, tetapi jadwalnya tepat ketika mereka hendak melakukan rencana ke Bandung. Suatu kebetulan. Bandung juga jadi salah satu kota yang disebutkan Salma ketika membahas rencana thesis-nya mengenai band indie.
Setelah makan siang, mereka berangkat. Rony memacu mobilnya dengan kecepatan 80 Km/jam.
"Eh, akhirnya ya Novia sama Bang Neyl nikah juga," ucap Salma ketika mereka sudah di tol yang membosankan.
"Iya, walaupun Bang Neyl bakal banyak komprominya," komentar Rony.
"Namanya juga cinta, senengnya Novia diperjuangkan begitu," timpal Salma.
"Lo pengen diperjuangkan juga?" kata Rony mengangkat sebelah alisnya dan senyum tengilnya.
"Siapa si yang ga pengen diperjuangkan?" jawab Salma diplomatis. "Gue diejek terus dari semalam gara-gara dapet tu bunga," ungkap Salma. Bau semerbak dari buket mawar putih yang masih dibiarkan di seat belakang mobil Rony dari kemarin. Salma mendapatkan bunga itu ketika dilempar oleh Novia. Sebuah tradisi asal eropa. Mungkin kalau di jawa seperti mencuri ujung roncean melati pengantin yang biasanya berupa bunga Kantil.
Rony tersenyum tengil lagi, "Lah, Lo pake acara nangkep tu bunga,"
"Mungkin karena gue lebih tinggi dari yang lain kali ya, reflek aja,"
Atau ngarep?
"Gue juga diceng-cengin terus," ucap Rony.
Salma tertawa ngakak karena wajah Rony nampak lucu, membayangkan wajah kikuk lelakinya karena digoda teman-temannya. Obrolan itu hanya sampai disitu, selanjutnya mereka membahas mengenai rencana perjalanan mereka selama di Bandung. Sepertinya Rony dan Salma sudah mulai memiliki titik temu pemikiran ketika jalan bersama seperti ini, tidak lagi berdebat antara yang perlu direncanakan atau yang spontan.
Perjalanan mereka ke Bandung sekitar 2 jam lebih. Tujuan pertama mereka ketika di Bandung adalah kopi. Mereka memilih sebuah kedai St*rbucks di Jl. Asia Afrika yang dulunya merupakan Jalan Raya Pos. Meski keberangkatan mereka tidak melewatinya, tapi mereka ingin mencicipi sedikit jalan itu. Sebuah kedai tepat di sudut jalan persimpangan antara Jl. Braga dan Jl. Asia Afrika. Rony memesan cold brew coffee, Salma memesan Beef fillone Sandwich yang sudah sepaket dengan Iced shaken lemon tea.
Rony dan Salma memilih duduk di tepi jendela mengarah ke Jalan Asia-Afrika. Dari jendela tersebut nampak bangunan peninggalan kolonial yang sekarang menjadi bank. Terdapat tulisan Warenhuis de Vries, toko serba ada pada masanya. Sama seperti Spiegel di Semarang sepertinya.
"Kok nama Jalannya Asia-Afrika ya?" tanya Rony.
"Tuh di seberang kan gedung yang buat konferensi Asia-Afrika,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)