Hujan turun ketika dua porsi makanan diantarkan ke meja Salma dan Rony. Bebek goreng kering, dengan pelengkap sambal matah. Sambal dari irisan bawang merah, kecombrang, daun jeruk, batang sereh, ditambah garam dan terasi lalu disiram minyak kelapa panas. Setelah kata 'Oh,' dari Salma, mereka saling diam. Khusyuk makan. Salma fokus dengan bebeknya. Wajahnya menunduk, tidak biasanya. Biasanya perempuan itu bawel mengomentari makanan yang dipesannya.
Rony mencuri pandang perempuannya. Sebenarnya dia sudah menyadari sesuatu sedari pagi, hanya gemas karena Salma tidak langsung mengatakan perasaannya. Sampai kata 'oh', dari Salma memberinya keyakinan kalau dugaannya tadi pagi itu valid. Rony akhirnya membiarkan Salma selesai makan terlebih dahulu. Rony lebih cepat selesai makan, lalu merokok setelah minum es jeruk. Dia bermain dengan hp-nya. Dilihatnya Salma meliriknya beberapa kali.
"Enak?" tanya Rony saat Salma memasukkan suapan terakhirnya.
Salma mengangguk, "Sambal matahnya gue suka,"
Dari nada suaranya seperti dibuat baik-baik saja.
"Terlalu pengar di mulut buat gue," timpal Rony.
"Mungkin karena semua bahannya aromanya menyengat kali ya, gue si suka,"
"Eh, ini salam dari Kak Ayu, Sa," ujar Rony, seperti sengaja menunjukkan pesan di hp-nya.
"Oh," jawab Salma mengangguk.
Hening, beberapa saat. Mereka saling diam, otak mereka yang seperti pasar malam.
"Gini ya rasanya nggak dipercaya?" ungkap Rony.
Salma memang tidak mengatakan apapun, tapi mungkin sikapnya berbicara lebih keras. Atau mungkin telinga hati Rony yang lebih peka, lebih bisa mendengarkan bahkan untuk sesuatu yang tidak dikatakan.
Mulut Salma sedikit terbuka mendengar pernyataan Rony. Dia padahal sudah sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya. Salma cukup percaya diri, tidak diliputi insecurity berlebihan seperti Rony. Logikanya cukup berjalan menghadapi situasi ini. Perasaannya terganggu, tetapi tidak lantas membuatnya marah-marah. Dia butuh waktu untuk mencerna dan memvalidasi. Pernyataan Rony barusan yang memvalidasinya. Apakah senampak itu perasaan tidak enaknya? Atau Rony yang terlalu peka sekarang?
Salma tidak juga mengeluarkan suara. Rony meraih tangan Salma, menatapnya dengan mata teduhnya.
Rony menarik nafas panjang, lalu berkata, "Gue harap Lo juga paham gimana rasa cemburunya,"
Salma memanyunkan bibirnya. Rony tersenyum lebar. Salma jadi ikut tersenyum. Pengalaman rasa yang baru di antara mereka. Saling merasakan, kebalikan-kebalikan. Ada pengertian dan pemahaman baru, juga cara penyelesaian yang baru juga. Salma yang tidak bermasalah dengan rasa percaya diri lebih mudah mengelola emosinya.
"Gue percaya sama Lo, Ron. Meskipun rasa nyelekit di hati itu tetap ada, gue nggak munafik,"
Rony tidak bisa menanggapi dengan kata-kata, diciumnya jemari perempuannya tanda mengerti. Perempuannya memang luar biasa.
___________
Matahari sudah tergelincir ke Barat ketika hujan reda. Salma dan Rony kembali ke Museum Puri Lukisan untuk mengambil mobil mereka. Mereka mau ke Monkey Forest. Sebenarnya lokasinya tepat di sebelah selatan museum tempat mereka parkir, namun karena jalan searah mereka harus berputar melewati jalan Hanoman, baru masuk ke kawasan Monkey Forest.
"Lo mau turun sini? gue parkir dulu," tanya Rony di area pintu masuk.
"Enggak, bareng aja jalan abis ujan tu asik," ucap Salma dengan senyum manisnya. Jawaban sederhana yang menyenangkan.
Rony menjalankan mobilnya ke area parkir terbuka. Di sebelah area gedung parkir, dimana acara konser nanti digelar. Saat ini masih tampak panita sedang melakukan persiapan-persiapan serta acara-acara paralel seperti workshop dan diskusi. Salma hanya ingin menonton konsernya. Sambil menunggu waktu pertunjukan mereka mau jalan-jalan ke monkey forest.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)