46 Surabaya-Paiton

9.1K 579 186
                                        

Rony dan Salma akhirnya berhasil melewati Jl. Ahmad Yani yang padat beringas, lalu mampir di sebuah warung makan Lontong Balap di pinggir jalan. Bukan yang ratingnya tertinggi maupun terkenal. Sedapatnya. Salma sudah manyun karena laparnya.

Mereka harus keluar dari jalur utama, kemudian putar balik. Keduanya memesan dua porsi lontong balap. Potongan lontong yang diatasnya diberi potongan tahu goreng, lento, semacam kacang yang direndam air lalu digumpalkan. Juda taoge setengah matang dalam jumlah besar, lalu disiram kuah kaldu sapi. Mirip tahu kupat, namun tidak semanis itu.

Mereka makan dengan cepat, karena sudah menahan lapar begitu lama. Cara yang salah, terlalu cepat makan malah bikin perut kaget dan begah. Tapi ya sudahlah. Mereka tinggal menghabiskan teh hangat yang tersisa. Rony merokok seperti biasanya.

"Kita kok ga beli bekal apa-apa ya, roti kek cemilan kek," ujar Salma.

"Nanti kita cari minimarket dulu. Rokok gue abis juga ini,"

"Kita nginep dimana?" tanya Salma setelah berdecak. Dia pikir mereka akan menginap dulu di suatu tempat malam itu.

"Kita jalan malam aja gimana?"

"Eh?" Salma meragu.

"Malam ini gue nyetir, Lo tidur. Besok pagi Lo yang nyetir, gimana?" tawar Rony.

"Berapa lama si ke Banyuwangi?" Salma mengecek aplikasi peta di hp-nya.

"Tadi gue liat 6 jam, lewat tol aja ya. Pagi lah kita nyebrang," terang Rony.

Salma manyun dulu, " Lama ya, tol-nya cuma bentar ya... Lo nggak papa?"

"Aman, kita bisa tidur bentar di mobil sambil nunggu feri," ujar Rony.

"Lo ngirit? Kalau nggak pakai duit yang di gue aja buat bayarin pengianpan,"

"Enggak, Sa. Itu cuma tawaran. Kalau Lo nggak mau, kita cari penginapan. Gue cuma terinspirasi film senengan Lo,"

"Before sunrise? Nyesel gue kasih tau Lo film itu.... tapi oke deh, seru juga..." sedikit antusias.

Rony tersenyum senang, ide yang spontan.

"Yah, baluran kena skip juga ya," ujar Salma sedikit kecewa.

"Pulangnya kan Bisa, Sa...."

Salma manyun lagi, "Semua-muanya pulangnya, awas kalau nggak jadi,"

Rony tersenyum, gemas.

"Eh, gimana lontong balapnya?"

"Not bad lah,"

"Gue kemarin nonton podcast-nya Ello sama Pras Teguh. Waktu habis nikah kan istrinya nggak hamil-hamil, terus Ahmad Dhani katanya nyaranin dia makan lontong balap ini. Terus langsung hamil dong, hahaha... abis ini Lo puasa yak, bisa bahaya!" ujar Salma.

"Bangsat! Kenapa Lo baru bilang? Sengaja Lo ya...?" Rony mengerutu. Lanjutnya dengan terkekeh, "Apa mau dihamili?"

"Si Anjing! Jangan gitu lah. Nanti gue ga mau terus ah, takut sama Lo, trust issue gue," ancam Salma balik sambil senyum tengil.

Tawa Rony pupus, "Sial! Tetep gue yang kalah,"

"Hahaha.... udah yuk?"

Rencana dilancarkan. Ke minimarket belanja bekal. Roti, air putih dan snack pengganjal perut. Mereka juga membeli kopi dan memasukkannya ke tumbler tahan panas, pengganjal mata. Rony dan Salma sekalian buang air kecil. Benar-benar persiapan perjalanan panjang.

Rony dan Salma langsung jalan setelah persiapan lengkap, mereka langsung jalan. Melewati bundaran Waru masuk Tol Surabaya-Gempol. Kemudian melewati perlintasan jalan layang yang di peta nampak seperti spaghetti yang melingkar-lingkar. Rony menyetir dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi namun stabil.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang