R~ : gue udah di depan
SS : ih lama banget, ga kangen apa?
R~ : buruan, ini udah kangen
SS : oki
Salma menunggu jemputan lelakinya agak lama di sebuah cafe. Katanya masih meeting. Setelah pesan dari lelakinya, dia bergegas menuju area penjemputan. Rony tersenyum lebar saat melihat sosok perempuannya datang mendorong troly dari pintu kedatangan bandara. Troly itu penuh koper dan beberapa kotak oleh-oleh dari Bali yang diberi selotip merah bertuliskan fragile, rapuh. Perempuannya juga menyungging senyum lebar. Rony berlari kecil menghampiri Salma, memeluknya, erat. Menumpahkan rindunya.
"Lama banget, udah berjamur gue sangking lamanya," keluh Salma.
"Baru kelar, maaf ya,"
"Kalau tadi gue naik taksi udah sampai rumah," ujar Salma.
"Iya, maaf. Flight-nya aman?"
"Namanya juga ATR ya gitu lah," ucap Salma menyebut brand pesawat.
Iya, Salma turun di bandara Halim Perdana Kusuma, berangkat dari bandara Adisutjipto. Untuk rute itu hanya dilayani pesawat dengan brand ATR. Pesawat ukuran kecil dengan penggerak dua baling-baling di kanan-kiri pesawat. Tak sekuat pesawat besar saat bergoncang.
Rony mendorong trolley yang rupanya cukup berat itu.
"Banyak juga ya barangnya?" seloroh Rony.
"Itu kan baju Lo juga disitu, oleh-olehnya juga,"
Rony langsung memasukkan barang-barang tadi ke bagasi mobil, Salma membantunya.
"Eh, tadi meeting dimana?"
"Di cafe dekat sini doang,"
"Lancar?"
"Aman..."
"Enak nggak tempatnya?"
"Biasa aja si, makananya juga biasa aja," cerita Rony datar, tidak antusias.
"Kok Lo yang berangkat si, katanya dipegang Bang Neyl,"
"Kan tadi gue dah cerita. Dia ada cek dokter bareng Novia. Gue juga masih selo, jadi ya ga papa,"
"Maksud gue, kan ada yang lain, Paul, Bang Diman, apa siapa gitu,"
"Mereka juga sibuk kayaknya, Bang Neyl minta gue langsung yang berangkat,"
"Oh..." Salma mencoba mengerti.
"Eh, tadi katanya masak apa di rumah?" tanya Rony membahas cerita Salma tadi pagi.
"Gue bikin rendang sama si mamah. Sama dibawain kentang mustofa sama tante Ima, buat makan malam ya?"
Rony mengangguk.
"Kemarin ke rumah eyang gimana?"
"Eyang sehat, nanyain Lo,"
"Iya, gue belum kesana lagi dari kita nikah,"
"Cucu menantu durhaka, bisa disunat lagi Lo!" serapah Salma.
"Tolong lah, ga usah bawa-bawa itu lagi. Ya gimana lagi, bukan gue yang ga mau. Tante Ima?"
"Lagi ada suaminya, baik bener dia,"
"Ya iya lah," ucap Rony tengil.
"Mereka juga nanyain itu juga,"
"Yang Lo cerita kemarin kan? santai ya... jangan jadi beban. Eh, Sa, kita mampir studio dulu gmn? Gue mau bahas hasil meeting sama Bang Neyl. Ada anak-anak juga, bisa sekalian lo bagiin tuh oleh-oleh," kata Rony mengganti topik supaya tidak larut dalam pembahasan 'itu'.
"Boleh, lama juga nggak ketemu mereka kan,"
"Nggak capek?"
"Kalau capek gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)