Cerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata
Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya.
Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ron, ada satu hal yang pengen gue tanyain, boleh?" tanya Salma dalam perjalanan mereka pagi menjelang siang hari selanjutnya. Mereka sudah check out dari penginapan.
"Apa?" timpal Rony.
"Mengenai Mas Ditho," ungkap Salma.
"Ehm, gimana?" tanya Rony sedikit terpaksa. Apakah huru-hara akan dimulai lagi?
"Kita udah baikan nih. Gue harap Lo paham yang gue omongin semalam. Lo masalah nggak kalau gue masih menyebut namanya?"
Rony diam sejenak, dia memandang lurus ke jalan sambil nyetir. Meragu. Salma menunggu dengan cemas.
"Beri gue waktu ya, Sa. Gue masih nata hati gue. Bukan gue nggak percaya sama Lo, ga gampang buat gue berubah secepat itu,"
"Makasih ya, Ron,"
"Eh?"
"Makasih atas kejujuran Lo. Gue bukan tipe yang pinter buat memahami. Mungkin ga peka. Daripada tebak-tebakan, gue lebih suka Lo jujur kayak gini,"
Rony tersenyum, ini bukan huru-hara.
"Kalau gue keceplosan, bukan gue bermaksud bawa-bawa dia. Gue harap Lo ngerti itu juga. Ingetin gue langsung aja,"
Rony tidak menjawab, dia meraih tangan perempuannya. Menciumnya.
"Lo capek ya kita ribut terus?" tanya Rony.
"Siapa sih yang mau ribut, maunya yang manis-manis terus lah..."
"Jangan kebanyakan manis, nanti diabet,"
"Gue berpotensi kena diabet donk,"
"Eh?"
"Lo manis terus soalnya,"
"Sa!!!" pekik Rony tangannya ingin meraih apapun dari tubuh Salma, gemas. Salma sebisa mungkin menghindar.
Mereka sedang dalam perjalanan ke tempat untuk membeli oleh-oleh. Pagi tadi mereka baru membahas mengenai rencana hari itu. Pagi menjelang siang mereka akan mencari oleh-oleh dulu di sebuah toko keramik. Keramik? Iya, semacam gelas piring dari keramik. Itu yang mau Salma beli.
Kalau oleh-oleh makanan, tentu bisa basi, perjalanan mereka masih panjang. Sedangkan kalau pakaian sepertinya sudah sering. Salma menemukan akun pembuat keramik dari Bali. Dia sebenarnya sudah lama mengikuti akunnya di sosial media, tapi baru teringat pagi tadi.
Namanya Tekuni keramik. Merupakan pengrajin yang membuat perlengkapan dapur dari keramik seperti cangkir, piring, mangkuk dan teko. Selain warna-warni, uniknya lagi ada karakter-karakter binatang kecil yang menempel di peralatan dapur itu. Lucu.
Rupanya tempat itu dekat dengan penginapan mereka. Jadi ke sanalah mereka pagi menjelang siang itu.
Tekuni dari kata tekun, artinya melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, passionate. Begitulah proses membuat keramik. Tidak hanya membentuk, tapi juga menunggu kering, membakarnya, memberi warna, lalu membakar lagi. Sebuah proses yang panjang. Mengerjakannya harus dengan tekun. Penuh kesabaran.