Suatu malam yang terasa gerah bagi perempuan yang sedang hamil di trimester kedua. Salma sedang berbaring, kepalanya bersandar di pangkuan lelakinya. Rony duduk bersandar di headboard ranjang. Keduanya memegang hp masing. Sama-sama berselancar, yang satu scrolling sosial media, yang lainnya sedang membaca mengenai kehamilan.
"Ron, gue mau melahirkan di rumah aja gimana?" celetuk Salma tiba-tiba.
"Eh?" Rony menghentikan berselancarnya. Mereka belum pernah membahasnya sejauh ini.
"Iya, di rumah aja," Salma menegaskan.
"Emang bisa? Aman?" tanya Rony.
"Orang jaman dulu juga pada di rumah nggak papa, Ron,"
"Ya... jangan dibandingkan lah... jaman dulu angka resikonya juga tinggi kali,"
"Ron... gentle birth. Percaya dong sama gue, sama Bumpy," Salma mengingatkan lelakinya.
"Sa... yang aman-aman aja deh,"
"Aman, Ron. Ya, kita tetep hubungi tenaga medis. Tetep siap-siap plan B, ke rumah sakit. Oya, kita pakai jasa doula ya...?"
"Doula itu gue setuju, tapi kalau di rumah..." Rony menggantung kalimatnya.
"Ron..."
"Ada lho klinik bersalin yang nggak kaya rumah sakit, tapi rancangannya kek rumah aja,"
"Ron..." rajuk Salma memanatap lelakinya.
"Sa..."
"Gue, berjuang sehat, senam, yoga, biar gue kuat. Kalau gue melahirkan di rumah, rumah ini bakal jadi bersejarah buat Bumpy, buat kita juga. Dukung perjuangan gue, Ron. Percaya sama gue..." pinta Salma.
Rony tersenyum, sebenarnya dia juga mulai membaca mengenai opsi melahirkan, dan banyak artikel yang membahas mengenai melahirkan di rumah. Rony melihat mata perempuannya yang menyipit lucu, "Iya,"
"Makasih, Ron! Makin sayang deh," ucap Salma menelus pipi lelakinya, "Gue mulai kontak Bidan sama doula-nya ya? Takutnya antri," ujar Salma.
"Iya... yang penting kamu nyaman," ucap Rony, mengusap perut perempuannya.
Salma tersenyum.
"Eh, Ada doula yang bidan dan dia bikin kelas yoga lusa, buat suami istri, ikut yuk?"
"Eh?" Rony kaget.
"Ayolah...." Salma mulai melancarkan misinya.
"Gue yoga juga? Sa...."
"Ayahnya Bumpy, mau ya..."
Rony berpikir sejenak, Salma menggoncang lengan Rony manja,"Ya udah, iya. Dimana?"
"Di daerah Kebayoranbaru, Ron. Sore,"
"Boleh, nanti bisa makan malam chinese food deket sana. Bisa makan fu yung hai sepuasnya,"
"Asiiik..." Salma girang bukan kepalang.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang terjadi di perut Salma.
"Ron," Salma menarik tangan Rony, meletakkan tangan lelakinya di sisi atas perutnya.
"Eh..." Rony kaget, merasakan pergerakan di perut perempuannya. Dia letakkan hpnya. Menegakkan duduknya.
"Sa, gerak, Sa..." ujar Rony merasa ajaib.
Salma tertawa, melihat lelakinya yang keheranan.
"Ah... hai Bumpy, mau makan fu yung hai ya?" tanya Rony sambil mencium perut perempuannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)