37 Lokananta Bloc

10.1K 550 121
                                        

"Roon..." ucap Salma ketika baru terjaga dari tidurnya.

Orang yang dipanggil namanya belum menyahut. Masih terlelap. Lengannya memeluknya, menjadikan Salma bantal guling semalaman. Membuat Salma susah bergerak.

"Ron..." ulang Salma memanggil lelakinya lagi. Kali ini sambil menepuk-nepuk lengan Rony, berupaya supaya lelakinya itu lekas terjaga.

"Hm..." respon Rony, usaha Salma sedikit berhasil. Tapi sepertinya orang itu masih merem.

Semalam mereka banyak ngobrol, sayangnya obrolan panjang tadi malam cukup alot. Bahkan titik temu belum dicapai. Obrolan mengenai kenapa sikap Rony yang jutek setelah Salma menyapa teman-temannya cukup cepat saja pembahasannya. Soalan pengakuan saja, Rony ingin diakui sebagai suami.

Obrolan yang lama mengenai tempat tinggal mereka selanjutnya, belum ketemu sepakat. Sebenarnya Rony tidak mau ambil pusing. Tapi Salma masih bingung dengan pilihan dimana mereka akan tinggal. Pengalamannya 'menumpang' di awal kuliahnya menjadi alasan tersendiri. Obrolan mereka berkembang sampai urusan finansial. Obrolan yang cukup berat. Akhirnya semalam mereka memilih untuk tidur terlebih dahulu. Dibahas besok lagi katanya.

"Ron... jadi ke Solo nggak?" tanya Salma mengingatkan rencananya.

Salma sendiri masih malas sebenarnya.

"Emh... Masih ngantuk Sa..." jawab Rony. Bukannya bangun, laki-laki itu malah semakin bergelung. Tidak hanya tangannya yang menjadikan Salma bantal guling, sekarang kakinya ikutan.

"Ron..." Salma kembali menepuk-nepuk, "Melek dulu,"

Rony malah membenamkan kepalanya ke lengan Salma.

"Hish!" Salma kesal.

Rony sebenarnya sudah dengar, tapi dia masih malas.

"Awaslah, Ron!" Salma berusaha melepaskan diri, tapi Rony mengeratkan pelukannya.

Tidak ingin membuat perempuannya marah, Rony akhirnya membuka suara, "Kenapa sih Sa?"

"Jadi ke Solo nggak? Mumpung masih pagi," ujar Salma.

"Sa... gue pengen ke Solo. Tapi males nyetir," jawab Rony tapi matanya masih merem.

"Kita ajak Pak Amin?"

"Katanya Papah mau kemana gitu, pasti ajak Pak Amin," jawab Rony menyebut cerita mertuanya kemarin.

"Yaudah, naik KRL aja..."

"Emang ada?"

"Hissh! Jangan nyepelein Jogja Solo ya..."

"Hm, yaudah..."

"Yaudah apa? Ron, melek!" pinta Salma. Dia melihat bibit-bibit kemalasan suaminya.

"Ini nyaman banget, Sa. Jangan ngeselin dong,"

"Kalau naik kereta kita mesti ngikutin jadwal keretanya, Rony! Ayolah..."

"Enggak mau. Mau gini terus..." Rony semakin clingy.

"Bangun Ron! Kalau nggak mau, gue yang bangun duluan, lepasin dong...Gue mau mandi"

"Ntar...." peluk Rony semakin erat.

"Melek nggak!" ancam Salma.

Rony melek, memperlihatkan kantung matanya yang sedikit membesar karena masih ngantuk.

"Ron... ayolah..."

"Angh?"

"Ron, apa ini?" tanya Salma, polos. Merasakan ada yang mengganjal.

"Ah, shit!" Rony langsung membuka matanya, melepas pelukannya, lalu lekas beranjak.

"Gue yang mandi duluan," ucap Rony langsung ngibrit ke kamar mandi.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang