Salma masih butek wajahnya bahkan setelah mandi, cuci muka dan gosok gigi. Rony seperti biasa, bingung kalau bertemu dilema. Keduanya tidak langsung membahasnya. Salma juga bingung, apa yang mesti dibahas.
Salma masih libur sampai 5 hari kedepan. Tapi Salma juga mengerti Rony ada tanggung jawab yang harus ditunaikannya. Rony memahami kekecewaan Salma. Tapi juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Mereka baru hitungan hari menikah, tapi sudah berhadapan dengan pilihan sepele tapi memicu keributan.
Malam itu Rony dan Salma di rumah saja. Menyadari esok mungkin harus beranjak dari rumah itu. Keduanya hanya ngobrol seperlunya. Rony lebih banyak di kamar sepulangnya mereka dari Solo. Dia sibuk dengan ipad di tangannya.
"Ron, makan," ajak Salma saat masuk kamar.
Salma hanya mengambil hp-nya. Lalu keluar lagi, meninggalkan lelakinya menyelesaikan urusannya.
Rony akhirnya turun ke ruang makan. Dilihatnya Salma baru saja memindahkan lauk ayam goreng dari dapur. Santi membawa satu cobek sambal. Makanan lainnya sudah tersaji di meja makan berbentuk oval, dimana Anang sudah menunggu. Mbak Asri sedang menyiapkan piring-piring. Anang dan Santi duduk bersebelahan di satu sisi. Rony dan Salma di sisi lainnya.
"Yok makan, yang banyak biar kuat!" kata Anang.
"Ya, nggak banyak-banyak, Pah. Kuat enggak, ngantuk malah iya," timpal Santi.
Rony hanya tersenyum melirik Salma. Wajah Salma masih datar. Santi sudah mengambilkan nasi untuk suaminya. Salma memberikan piring saja ke Rony.
"Diambilin dong, Ca..." ujar Santi menyarankan.
Lalu Salma menyendok nasi ke piringnya sendiri, baru setelahnya ke piring lelakinya.
"Segini?" tanya Salma memastikan, irit sekali bicaranya.
"Dikit lagi," jawab si lelaki.
Begitu juga untuk lauk dan sayur. Kecuali sambal, Rony mengambil sendiri. Juga kerupuk, untul soundtrack kata Salma.
"Tadi kemana aja di Solo?" tanya Anang.
"Ke Lokananta doang, Pah," jawab Salma.
"Nggak makan tengkleng, Ca?" tanya Santy.
"Enggak, takut ketinggalan kereta, tadi aja penuh banget keretanya,"
"Hari kerja ya padahal?" tanya Anang.
"Justru hari kerja, Pah. Penuh di jam pulang kerja," sanggah Salma.
"Rony ga duduk sama sekali tadi," Rony menambahi, berusaha menunjukkan kondisi baik-baik saja di depan orang tua Salma. Dia memang baik saja. Ehm, Salma yang jutek.
"Lah capek dong. Terus kalian makan apa disana? Itu Ca, tengkleng itu yang deket stasiun Balapan ada to? Enak itu," ujar Santi.
"Kami dari Purwosari," jawab Salma singkat.
"Papah padahal pengen serundeng, tapi lupa bilang. Makan brambang asem? Es dawet telasih?"
"Yah, nggak ke Pasar Gede juga kami, Pah," ungkap Salma.
"Mamah tu juga mau lho, Ca. Dibawain roti Orion, minimal Wonder,"
Salma menggeleng pelan.
"Ga jajan apa-apa kalian? Es kapal gitu di Laweyan? Kan deket dari Purwosari," tanya Anang.
"Solo banyak kulinernya ya?" sela Rony, sedikit kecewa perempuannya tidak seantusias biasanya saat travelling.
"Wah, kebangetan Kamu, Ca. Kok Rony nggak diajakin cicipin makanan Solo, enak-enak padahal," tegur Santi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
Fiksi PenggemarCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)