"Ron, kalau mampir apotek dulu gimana?"
"Eh?"
Salma tidak menerangkan lebih lanjut. Rony juga tidak bertanya lebih lanjut. Keduanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Di depan sebuah apotek yang buka 24j am, Rony menghentikan mobilnya. Salma sedang bersiap-siap turun. Sebelum Salma membuka pintu, Rony menarik tangan perempuannya.
"Sa..." panggil Rony.
Salma memandang lelakinya, mata Salma sedikit mengawang.
"Apa pikiran kita sama?" tanya Rony.
Salma tersenyum segaris, seperti sedikit dipaksakan.
"Ehm, tadi mamah nanyain juga, tapi ga mau ngomong langsung takut nyinggung Lo," cerita Rony.
Salma masih terdiam.
"Sa...?" Rony sedikit bingung karena Salma dari tadi tidak menimpali.
"Gue aman, Ron," jawab Salma datar. Dia keluar dari mobil, Rony juga.
Rony menunggu perempuannya.
"Sa..." Rony lalu menggamit tangan perempuannya, menggenggamnya erat masuk ke apotek.
Seorang pelayan apotek yang menggunakan jilbab menyambut mereka, tampak mengantuk di tengah malam.
"Cari apa, Kak?" tanyanya.
"Kami cari testpack," ujar Salma lirih.
Perempuan pelayan apotek memandang Rony dan Salma bergantian, memberikan tatapan yang aneh.
"Yang apa?" tanya pelayan itu sedikit ketus.
Rony dan Salma saling pandang. Mereka belum belajar mengenai hal itu, jadi bingung.
"Lo mau yang mana, Sa?"
"Ada apa aja, Kak?" Salma yang bertanya.
Perempuan pelayan apotek itu semakin heran melihat Rony dan Salma yang kebingungan. Apalagi dengan panggilan Lo-Gue. Tatapannya juga semakin aneh. Seperti tatapan penghakiman pada muda-mudi yang 'kebobolan'.
Memang penampilan Salma dan Rony malam itu masih seperti mahasiswa baru, Rony memakai celana pendek dan kaos santai sedang Salma membawa tas ransel penuh patch bordir. Ya, salma memang mahasiswa, mahasiswa S2. Salma kesal dengan tatapan penghakiman itu.
"Ini ada yang strip biasa, ada yang digital," ujar pelayan apotek.
Rony melihat Salma, menunggu pilihannya. Salma lama menjawab. Tapi dia tau kalau perempuannya sudah kepalang kesal.
"Yang paling mahal satu, yang paling murah satu," akhirnya Rony yang memutuskan.
Pelayan apotek itu memberikan sebuah testpack digital seharga dua ratus ribuan, dan sebuah testpack biasa seharga tiga ribu lima ratus rupiah saja. Rony membayarnya, keduanya langsung keluar kembali ke mobil.
Rony mengrangkul perempuannya.
"Ish, kenapa sih tu orang, berasa jadi ahli neraka," ujar Salma ketika sudah keluar.
Rony tersenyum dengan ucapan Salma. Ia membukakan pintu untuk perempuannya lalu ia sendiri masuk ke mobil.
Perjalanan pulang ke rumah bujang terasa hening. Tidak ada pembahasan, tidak ada obrolan. Hanya musik dari radio lokal yang terdengar. Lagi-lagi keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Salma mulai memikirkan berbagai kemungkinan, juga rencana-rencananya. Sedangkan Rony malah gugup menebak bagaimana perasaan Salma. Apakah akan terima atau malah menjadi terbebani? Rony pusing sendiri, bahkan untuk membuka obrolan dia tidak mampu. Kelu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanfictionCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)