39 Siang Pertama

18K 787 285
                                        

Salma mengikuti Rony memasuki kamarnya. Rony menyalakan lampu lalu meletakkan kopernya dan koper salma di sudut ruangan. Salma mengamati kamar itu. Dia pernah masuk ke kamar itu sebelumnya di suatu pagi. Tapi hanya sekilas, Salma langsung ngibrit karena waktu itu Rony sibuk dengan morning routine-nya. 

Kamar dengan cat abu-abu muda. Ranjang dengan ukuran bed lebih kecil dari milik Salma berada di tengah-tengah. Headboard-nya berwarna hitam, dengan beberapa garis vertikal yang tegas. Bedcover berwarna abu-abu tua menutupi sprei berwarna abu-abu muda. Kamar yang sangat maskulin.

Malam itu mereka tidur di rumah orang tua Rony. Tidak mungkin untuk menginap di kost Salma. Rumah Bujang juga belum disiapkan untuk menginap karena rencana mendadak itu. Lagi pula David dan Maya ingin merasakan punya menantu juga di rumah mereka. Salma sudah pernah tinggal di rumah mereka. Tapi statusnya berbeda.

"Gue mandi dulu, ucap Rony. Lo lama banget mandinya,"

"Ya kan lagi dapet, Ron. Banyak urusannya,"

"Iya, gue ngerti, makanya gue duluan kan cepet,"

Salma mengangguk mengerti. Dia mengamati lagi kamar itu. Lampunya tidak terang, cenderung remang. Ia duduk di kursi putar, mendekat ke meja di ruangan itu. Ada beberapa kerang dan bintang laut di meja itu. Salma tau itu dari pantai Surindah. Juga ada beberapa fotonya, tertempel di dinding depan meja itu. Beberapa foto selama perjalanan mereka roadtrip. Fotonya di candi Mendut, Bandungan, Semarang, Rembang dan Lasem. Foto-foto yang Rony 'curi'. Salma tersenyum.

Di atas meja ada rak, berisi deretan CD. Jumlahnya mungkin ada ratusan. Di samping meja itu ada cd player dan speaker bluetooth berbentuk bulat di atas nakas. Mirip dengan yang di Rumah Bujang, hanya lebih kecil ukurannya. Ada gitar berwarna hitam yang tercantel di dinding. Salma mengenali gitar itu yang pernah dipakai teman-temannya saat ngumpul dulu.

Tak lama Rony keluar dari kamar mandi.

"Lo mandi apa ngapain? cepet amat,"

Rony hanya tersenyum, tidak menjawab.

"Lo mandi, gue tunggu di luar ya. Makan bareng kita, mamah masak banyak," ucap Rony.

Salma memanyunkan bibirnya karena pertanyaannya tidak dijawab. Rony sedikit memutar kursi yang Salma duduki, lalu mengecup manyun perempuannya.

David, Maya, Nabila dan Rony sudah duduk di meja makan. Mereka semua menunggu Salma sambil mengobrol ringan. Menanyakan kenapa Rony cepet balik, juga mengenai rencana mereka tinggal dimana.

Dalam kesempatan itu Rony juga bercerita mengenai rencana mereka untuk menunda punya anak. Rony menjelaskan pelan-pelan. Sehingga hal itu tidak perlu dibahas lagi dengan Salma. Rony tidak mau membebani perempuannya lagi dengan tuntutan itu. David mengerti, Maya yang pernah jadi wanita karir jauh lebih mengerti. Walaupun sering minta cucu, tapi Maya paham betul konsekuensinya. Dia menyetujui rencana anak-anaknya.

Salma datang membawa beberapa paperbag di tangannya. Buah tangan dari Salma untuk mertua dan adik iparnya.

"Thank You Kak Caca, sayang Kamu banyak-banyak..." ucap Nabila.

"Makasih sayang, papah-mamah sehat? Nggak kecapekan kan, acara kemarin keren banget," puji Maya.

"Sehat, Tant... eh, Mah..." jawab Salma penuh senyum. Dia mengambil duduk di sebelah suaminya.

"Mamah suka banget konsepnya, keren!" ucap Maya sambil tersenyum mengacungkan dua jempol, ramah.

"Papah masih nggak nyangka kita udah punya mantu, Mah," ucap David.

"Ih, mamah juga tau, Pah. Seneng banget rasanya,"

"Aku juga punya Kakak perempuan, nggak nyebelin kayak dia..." Nabila turut mengekor kalimat mamah-papahnya sambil mencibir abangnya.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang