'Ciiiiiiiiiiiiiiit!'
'Bruk!'
Bunyi rem diikuti suara badan terhentak. Mobil Mini Cooper countryman warna merah hitam itu berhenti mendadak dan membuat dua penumpangnya ikut terhentak, untung seatbelt terpasang dengan baik. Terima kasih pada penemu seatbelt tiga titik yang menyelamatkan banyak orang. Bahkan Nils Bohlin, penemunya tidak pernah mematenkannya, memperbolehkan semua merk mobil menggunakannya dengan percuma, sampai sekarang.
Lagu November Rain dari Guns N' Roses mengalun di mobil itu. Rony terkejut, terbangun dari tidurnya. Semenatara Salma diam terpaku, kedua tangannya memegang stir. Beberapa detik hanya diam, sampai terdengar suara klakson dari belakang bersahutan. Rony baru tersadar. Dilihatnya kondisi perempuannya.
"Sa, Lo nggak papa?" dia begitu khawatir. Perempuannya tidak bergerak. Tatapannya kosong ke depan.
Bib biiiip!
Tin Tiiiiin....!
"Minggir dulu, Sa!" pinta Rony karena suara klakson berbagai jenis kenadaran bersahutan.
Tapi Salma tidak juga bergerak.
Rony beranjak dari duduknya. Keluar dari mobil lalu meminta Salma turun, menuntunnya untuk duduk di kursi penumpang. Dia berusaha cepat di tengah lalu lintas yang padat. Rony kembali mengambil kemudi. Mencari tempat untuk meminggirkan mobil itu supaya tidak menyebabkan kemacetan karena pengguna jalan yang lain sudah tidak sabar.
Setelah menemukan tempat yang luang untuk mobil berhenti, Rony menarik tuas hand break. Rony memandang perempuannya. Dia mematikan pemutar musik, yang sedang mengeluarkan suara keras. Pandangan mata Salma masih kosong. Matanya sembab, apa dia habis menangis? Karena kejadian barusan apa sudah dari tadi? Rony menarik nafas panjang.
"Sa, Lo nggak papa?" tanya Rony lagi. Dia memegang lengan perempuannya.
Salma mengerjap, seperti baru tersadar.
"Ron...." ucap Salma pertama kali. Dia kembali menangis meminta pelukan lelakinya.
Rony merengkuhnya. Mengusap punggungnya, menenangkan.
"Ibu tadi gapapa kan Ron? Anaknya nggak papa kan? Ron, jawab!" ceracau Salma pada lelakinya setelah melepas pelukannya.
Rony sedikit bingung karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya menggeleng, karena memang tidak ada korban atau apapun di sana saat dia terjaga.
"Tadi ada ibu-ibu naik motor gendong balita gitu, tiba-tiba motong jalan," ungkap Salma dengan sedikit tersengal.
"Gapapa, Sa. Aman... Lo aman nggak? Ada yang sakit nggak?" tanya Rony memastikan.
"Gue beneran nggak liat, terus kaget jadi ngerem mendadak," ucapnya lagi, masih tersengal.
Rony mengambilkan minum untuk perempuannya. Supaya bisa lebih tenang. Salma menurut untuk minum, baru ia bisa menyandarkan tubuh setelahnya, lebih tenang. Dari sembab wajahnya, sepertinya Salma melamun. Hal itu yang menyebabkan kejadian barusan. Untung saja tidak ada korban. Rony jadi merasa bersalah membiarkan Salma banyak pikiran disaat perempuan itu harus menyetir. Pasti Salma juga sangat lelah.
"Kita cari tempat ngopi dulu aja ya," ujar Rony sambil mencari coffee shop di aplikasi petanya.
Salma mengangguk, "Ron, maafin gue,"
Rony mengangguk tersenyum. Ia melanjutkan perjalanan. Menggenggam tangan Salma terus. Sebenarnya matanya masih mengantuk. Rencananya yang indah untuk bertemu sunrise di tengah Selat Bali juga menuntut konsekuensi, kantuk dan lelah. Mungkin juga karena ditambah keributan di atas kapal. Entah jalan mana yang tadi Salma lewati, tapi sekarang mereka sudah berada di Jl. Gatot Subroto. Jalanan yang cukup padat di Bali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
FanficCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)