31 Antara Jakarta dan Jogja

7.8K 538 161
                                        


Jakarta siang hari.

Rony memutuskan untuk menghadiri verifikasi proposalnya. Ya, in person.

Hari-hari sebelumnya dia sempat berdebat dengan kedua orang tuanya. David dan Maya sampai ngomong akan memberikan uang senilai grant yang ditawarkan. Keputusan Rony untuk datang verifikasi bisa mengacaukan acara pernikahannya sendiri.

Di hari yang sama ada acara midodareni, acara pertemuan keluarga sehari sebelum acara pernikahan. Tradisi yang direncanakan keluarga Salma. Acara midodareni akan diselenggarakan petang hari, jadi menurut Rony masih memungkinkan untuk mengurus verifikasi dulu.

Rony menolak tawaran orang tuanya, bukan soal uang. Tapi ini bentuk tanggung jawabnya. Dia sudah bersusah payah membuat proposal. Melibatkan beberapa temannya. Kalau dia mangkir itu akan mengecewakan. Sayangnya, acara verifikasi harus dihadirinya sendiri, karena dia leadernya. Tidak bisa diwakilkan.

Alasan lainnya lagi-lagi bukan soal uang saja. Tapi lebih ke membuka jaringan baru. Pengalaman baru juga untuk studio Rony. Grant ini bentuk modal materi yang lain. Ini berkaitan dengan keberlanjutannya. Bisa jadi track record rencana jangka panjangnya. Kalau proposalnya sukses kali ini, bukan suatu kemustahilan kedepannya juga bisa mendapatkan lagi. Paling tidak dia sudah membuka akses.

Alasan terakhir, mimpi Rony dan Salma mengenai Ruang Musik. Grant ini bisa menjadi salah satu pintu masuk hidupnya ruang itu. Sebuah keputusan besar dan keras kepala, tidak memilih salah satu dari acara penting hari itu. Dia justru memilih keduanya.

Rony berkeras kepala akan menghadirinya. Dia mengatur jadwal. Dia yakin masih mungkin untuk bisa menghadiri dua acara besar dalam sehari itu. Dia memperhitungkan betul jadwalnya. Bahkan jika ia selesai jam 05.00 sore, masih ada pesawat yang bisa mengangkutnya segera ke Jogja.

Keluarga Rony akan berangkat terlebih dahulu paginya. Juga beberapa teman yang lain. Teman-teman Rony lainnya menyesuaikan sendiri jadwalnya. Seluruh barang seserahan yang harus dibawa telah disiapkan. Kecuali mas kawin yang masih dirahasiakan Rony. Barang-barang Rony juga dibawa sekalian oleh keluarganya. Rony hanya membawa tas untuk laptop dan berkas-berkas bahan verifikasi.

Novia, Neyl dan Paul tim yang akan ikut Rony dalam proses verifikasi. Jadwal verifikasi di undangan jam 10.00 pagi. Keempatnya sudah mencari tiket pesawat untuk jam 14.00. Kalau lancar, semua aman saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sama seperti Rony, teman-teman yang ikut acara verifikasi diminta sudah siap dengan bawaan untuk ke Jogja. Sebagai antisipasi terburuk mereka harus langsung berangkat ke bandara.

Pukul 10.00 keempatnya sudah berada di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan. Mereka menunggu di lobby sebuah kantor pemberi grant di lantai 5. Ada banyak tim lain yang sedang menunggu disana. Seorang perempuan bertugas memanggil giliran  tiap tim untuk melakukan verifikasi. Sialnya tidak ada keterangan pasti jam berapa giliran tim Rony. 

Sampai sekitar jam 12.00, baru ada 3 tim yang dipanggil. Dan itu tidak termasuk tim Rony. Durasi verifikasi tiap tim-nya berbeda. Entah apa yang membedakannya. Kemudian terjeda jam istirahat makan siang sampai jam 13.00. Ketiganya mencari tempat makan di gedung tersebut.  Sebuah cafe di lantai dasar. Rony berulang kali melihat jam tangannya. Hatinya mulai gelisah.

Tungguin gue, Sa...

"Ron, keknya kita nggak bisa berangkat jam 14.00 deh," ujar Novia sambil menyantap makan siangnya.

Rony menghela nafas. Dia mulai ragu dengan perhitungannya sendiri. Dilihatnya lagi jam tangannya. Kegelisahan menyelimutinya, bagaimana kalau tidak berhasil? Bagaimana kalau jadwal pesawat full? Padahal seminggu tanpa bertemu, rindunya sudah memuncak.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang