24 Pinky Agreement

9.7K 558 102
                                        

"Ron, kita jadi nikah ga si? Lo gak pengen bahas soal nikahan kita?" tanya Salma.

"Eh?" Rony bingung menanggapi.

"Ya, Lo ngelamar dadakan, Lo nurut nikah bulan Juni, tapi sebulan ini nggak ada tuh bahas soalan itu, Lo nyesel apa gimana,"

"Nggak gitu, Sa," nada suara Rony penuh rasa bersalah, "Gue bener-bener lagi sibuk banget sebulan ini. Lo kan tau gue lagi ngurus intimate show lagi. Terus gue juga mulai diseret urusan bisnis papah, nggak kerasa ternyata udah sebulan. Kan Lo juga ga bahas,"

"Gue udah bahas Ron, Lo bilang nanti, gue ga mau seolah-olah gue yang ngarep banget,"

"Lo cuma bahas sekali. Iya, sorry. Maaf, gue ga bermaksud gitu. Sorry gue kurang memprioritaskan," Rony menghela nafas panjang.

"Lo bener-bener sibuk sampai nggak inget?" ada nada kecewa di kalimat tanya itu.

"Di awal emang biasanya gini sibuknya, kalau udah fix bisa tinggal dikerjakan yang lain, gue tinggal mantau. Intimate show kali ini agak beda, karena rencana gue untuk genjot pemasukan tahun ini bikin kami gedein acaranya, kami cukup keteteran,"

"Hmf..."

"Gue pikir masih lama, jadi santai. Mengalir aja, Rock n Roll. Mestinya Lo ingetin juga dong? Tadinya gue pikir Lo juga santai,"

"Gue males nanti dikira yang ngarep banget, gengsi dong,"

"Yaelah, udah gini masih gengsi," tukas Rony, "Ini mungkin besok Selasa jadi meeting terakhir Kami sebelum eksekusi. Rencana gue kita bisa mulai bahas urusan kita setelahnya,"

"Nah, gitu dong, cerita. Katakan kalau ada apa-apa, jadi gue bisa dengerin, jadi mengerti,"

Rony tersenyum, mengangguk pelan, perempuannya sudah melunak.

"Hm... kayaknya kita perlu nambah satu kata lagi deh, selain katakan dan dengarkan,"

"Apa?" tanya Salma penasaran.

"Ingatkan. Ga boleh ada rasa nggak enak atau gengsi, kita sama-sama manusia. Ada salahnya, ada malasnya. Keknya kita juga mesti saling mengingatkan. Kek Lo yang nggak pernah capek ngingetin gue makan, gue juga ga bakal lupa buat ngingetin Lo tidur. Mungkin kita masih bandel, tapi kita jangan sampai lelah ngingetin satu sama lain."

Salma mengerti maksud Rony. Dia juga salah tidak ngomong ke Rony langsung untuk mengingatkan. Rony meraih tangan Salma.

"Gue bersungguh-sungguh ngelamar, Lo. Nggak main-manin. Gue pengen hidup bareng Lo. Gue pengen Lo yang jadi partner gue, temen hidup gue. Jadi ga usah tanya kita jadi nikah enggak, nyesek gue dengernya,"

"Iya, Ron. Keknya gue mulai overthinking soalan acara nikahan kita. Ya gua sih nggak masalah kalau kita nikah di KUA doang. Tapi mamah udah nanya terus, bikin pusing,"

"Ya jangan lah kalau di KUA doang, ini momen spesial, harus dirayakan, pasti orang tua kita udah ngarep banget. Ga papa sekali-kali bikin mereka bahagia,"

"Dirayakan di KUA kan bisa,"

"Sa, Ayolah... Kita ga pernah tau sampai kapan bisa bahagiain mereka,"

"Gue pusing sendiri. Butuh ngobrol gue, Lo sibuk banget ya?"

"Sampai meeting besok gue bakal fokus ke studio dulu ya, agak susah bagi pikiran. Maaf, Sa,"

"Perlu gue bantuin?"

"Hm... so far belum butuh bantuan," Rony menatap Salma, "Sa, gue bener-bener nggak bermaksud mengabaikan, cuma tanggung jawab gue mesti fokus kerja dulu,"

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang